Rajin Gym dan Kolesterol Normal, Dokter Ini Ungkap 1 Penyebab Pasiennya Kena Stroke di Usia 29 Tahun

Ilustrasi penderita stroke di usia muda/Foto : Dok. Bigstock Ilustrasi penderita stroke di usia muda/Foto : Dok. Bigstock

Jakarta, GPriority.co.id – Stroke tidak hanya mengancam orang lanjut usia atau mereka yang memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol. Sebuah kisah pasien berusia 29 tahun yang dibagikan melalui Instagram @doktermenin menjadi pengingat bahwa kebiasaan tidur juga perlu diperhatikan, bahkan ketika seseorang merasa sehat dan rutin berolahraga.

Dalam unggahan tersebut, pasien diceritakan tidak mengonsumsi alkohol, tidak merokok, dan rutin pergi ke gym tiga kali seminggu. Tekanan darah, kolesterol, hingga berat badannya juga disebut normal.

Namun, suatu pagi, pasien mengalami gejala serius. Lengan kanannya tidak bisa digerakkan, bicaranya pelo, dan penglihatannya kabur. Kondisi tersebut membuat dokter melakukan berbagai pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan genetik hingga evaluasi jantung dan darah. Menurut cerita yang dibagikan, pemeriksaan tersebut tidak menemukan kelainan yang menjelaskan kondisinya.

Dokter saraf kemudian menanyakan satu hal yang sebelumnya belum dibahas, yakni durasi tidur pasien.

“berapa jam kamu tidur?”

“4-5 jam. kadang kurang. saya bangun pagi untuk latihan,” jawab pasien tersebut.

Pasien itu diketahui memiliki kebiasaan tidur hanya empat hingga lima jam setiap malam selama bertahun-tahun. Ia bahkan menganggap kebiasaan tersebut sebagai bentuk kedisiplinan, dengan pola pikir, “tidur nanti saja kalau sudah mati.”

Meski demikian, kisah tersebut tidak membuktikan bahwa kurang tidur merupakan penyebab langsung stroke yang dialami pasien. Penyebab stroke perlu ditentukan melalui evaluasi medis menyeluruh.

Kurang Tidur dan Risiko Stroke

Menurut American Heart Association (AHA), tidur merupakan salah satu komponen penting kesehatan kardiovaskular. Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Tidur kurang dari tujuh jam secara rutin berkaitan dengan sejumlah faktor risiko, termasuk tekanan darah tinggi dan gangguan metabolisme yang dapat memengaruhi kesehatan jantung serta pembuluh darah.

Saat tidur normal, tekanan darah biasanya menurun dibandingkan ketika seseorang beraktivitas. Kurang tidur berkepanjangan dapat mengganggu pola penurunan tekanan darah tersebut dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Namun, hubungan ini tidak berarti setiap orang yang kurang tidur pasti mengalami stroke.

AHA juga menekankan bahwa kesehatan jantung tidak hanya ditentukan oleh olahraga, berat badan, dan kadar kolesterol. Durasi, kualitas, serta keteraturan tidur turut berperan dalam menjaga kesehatan tubuh.

Karena itu, rutin berolahraga tiga kali seminggu tetap perlu diimbangi dengan istirahat yang cukup. Kebiasaan tidur bukan penghambat produktivitas, melainkan bagian penting dari pemulihan tubuh.

Pesan yang perlu diingat, tidur cukup bukan tanda kemalasan. Jika muncul gejala stroke seperti wajah mendadak menurun sebelah, kelemahan lengan, atau bicara pelo, segera cari pertolongan medis darurat. Penanganan cepat dapat menentukan peluang pemulihan pasien.