Jakarta, GPriority.co.id – Mie ayam menjadi salah satu kuliner kaki lima favorit masyarakat Indonesia. Namun, pernahkah memperhatikan warna gerobak penjual mie ayam yang sering ditemui di pinggir jalan? Ada gerobak biru, cokelat, hingga hijau yang kerap dikaitkan dengan asal daerah dan karakter rasa mie ayam yang dijual.
Dilansir dari unggahan Instagram @opiniid, perbedaan warna gerobak mie ayam berkaitan dengan tradisi merantau pedagang, terutama dari Wonogiri, Jawa Tengah. Tradisi merantau yang dikenal dengan istilah kaum boro berkembang secara turun-temurun sejak sekitar 1960-an. Para perantau memulai usaha dengan berjualan keliling hingga membentuk jaringan pedagang mie ayam yang tersebar di berbagai daerah.
Menariknya, warna gerobak tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu petunjuk untuk mengenali gaya racikan mie ayam. Meski demikian, warna gerobak bukan penanda asal daerah yang mutlak karena setiap pedagang dapat memiliki pilihan dan resep berbeda.
1. Gerobak Biru, Identik dengan Mie Ayam Wonogiri
Gerobak biru termasuk yang paling mudah ditemukan di berbagai daerah. Warna ini disebut dipilih karena cat biru dahulu relatif murah, mudah diperoleh, dan tidak mudah terlihat kotor.
Gerobak biru kerap diasosiasikan dengan pedagang asal Wonogiri, Jawa Tengah. Mie ayamnya dikenal memiliki bumbu ayam yang pekat, gurih, dan kaya rempah. Kuah minyak berbumbu biasanya memberikan karakter rasa yang kuat. Penyajiannya juga umumnya tidak menggunakan tauge.
2. Gerobak Cokelat, Cita Rasa Manis dan Gurih
Berbeda dengan gerobak biru, gerobak cokelat sering menampilkan warna kayu alami tanpa banyak lapisan cat. Gaya ini dikaitkan dengan pedagang dari sejumlah wilayah Jawa Tengah, seperti Solo, Karanganyar, Sragen, hingga Klaten.
Mie ayam dengan gaya racikan ini cenderung menonjolkan perpaduan rasa manis dan gurih. Bumbu ayamnya memberikan sensasi berbeda dari mi ayam Wonogiri yang identik dengan rasa lebih pekat. Penyajiannya umumnya juga tanpa tauge.
3. Gerobak Hijau, Gaya Mie Ayam Priangan
Gerobak hijau kerap dikaitkan dengan pedagang dari wilayah Priangan, Jawa Barat. Racikan mie ayamnya cenderung memiliki bumbu ayam yang lebih ringan dan tidak sepekat gaya Wonogiri.
Tekstur mie yang lebih lembut, warna ayam yang tidak terlalu gelap, serta pilihan mie yamin dengan tambahan kecap manis menjadi karakter yang sering dijumpai pada sejumlah penjualnya.
Pada akhirnya, gerobak biru, cokelat, maupun hijau memiliki ciri khas dan penggemarnya masing-masing. Perbedaan tersebut memperlihatkan kekayaan tradisi kuliner Indonesia yang berkembang melalui perjalanan para pedagang perantau.
Jadi, saat membeli mie ayam berikutnya, warna gerobak bisa menjadi petunjuk awal untuk mengenali gaya racikannya. Namun, rasa tetap menjadi penentu utama karena setiap penjual memiliki resep dan ciri khas tersendiri.
