Jakarta, GPriority.co.id – Pengkhianatan pasangan menjadi salah satu ujian berat dalam kehidupan rumah tangga. Rasa marah, sedih, dan kecewa dapat muncul ketika kepercayaan dalam pernikahan dirusak. Namun, Islam mengajarkan agar seseorang tidak terburu-buru mengambil keputusan saat emosi masih menguasai diri.
Melalui unggahan akun Instagram @bp4pusat pada Sabtu (17/10), Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) membagikan panduan menghadapi pasangan yang berkhianat. Pesan utamanya, setiap keputusan perlu mempertimbangkan martabat diri, tanggung jawab, dan nilai-nilai kebaikan.
“Pengkhianatan memang menyakitkan, tetapi jangan biarkan luka menguasai setiap keputusan. Islam mengajarkan kita untuk tetap tenang, menjaga martabat, dan memilih jalan terbaik,” tulis BP4 dalam unggahannya.
1. Tenangkan Hati dan Kendalikan Amarah
Langkah pertama menghadapi pasangan berkhianat adalah mengendalikan emosi. Marah dan kecewa merupakan reaksi manusiawi, tetapi keputusan besar sebaiknya tidak diambil secara tergesa-gesa.
Menahan amarah bukan berarti membenarkan pengkhianatan. Sikap tersebut justru membantu seseorang berpikir jernih sebelum menentukan langkah selanjutnya.
2. Beri Kesempatan untuk Memperbaiki Rumah Tangga
Jika masih ada keinginan mempertahankan pernikahan, pasangan perlu membicarakan masalah secara terbuka dan jujur. Pengkhianatan harus dihentikan, diakui, serta diikuti perubahan nyata untuk membangun kembali kepercayaan.
Apabila konflik sulit diselesaikan berdua, Islam menganjurkan kehadiran penengah yang adil dari kedua keluarga. Hal ini sesuai dengan QS An-Nisa ayat 35, yang menjelaskan upaya mendamaikan suami istri melalui seorang penengah dari pihak suami dan seorang dari pihak istri.
3. Memaafkan Bukan Berarti Langsung Percaya
BP4 mengingatkan bahwa memaafkan pasangan tidak berarti kepercayaan harus pulih seketika. Kepercayaan membutuhkan waktu, keterbukaan, dan perubahan perilaku yang konsisten.
Islam mengajarkan kesabaran, tetapi bukan berarti seseorang harus menormalisasi pengkhianatan yang terus berulang. Taubat perlu disertai kesungguhan untuk meninggalkan kesalahan dan memperbaiki perilaku.
4. Bertahan atau Berpisah, Pertimbangkan dengan Bijak
BP4 juga menegaskan bahwa memperbaiki rumah tangga merupakan pilihan, tetapi perpisahan pun memiliki jalan yang dibenarkan dalam Islam.
“Pertahankan rumah tangga jika masih mungkin diperbaiki. Apalagi ada anak yang perlu perhatian. Jika harus berpisah, lakukan dengan cara yang baik dan bermartabat,” demikian pesan dalam unggahan tersebut.
Prinsip ini sejalan dengan QS Al-Baqarah ayat 229, yang memerintahkan agar pernikahan dipertahankan dengan cara yang patut atau diakhiri dengan cara yang baik.
Pada akhirnya, menghadapi pasangan berkhianat membutuhkan ketenangan, pertimbangan matang, dan keberanian mengambil keputusan. Memperbaiki hubungan dapat diupayakan jika ada komitmen nyata dari kedua pihak. Namun, menjaga martabat dan memilih perpisahan secara baik juga dapat menjadi jalan ketika rumah tangga tidak lagi bisa dipertahankan.
