Komposisi Stevia Beeru Jadi Polemik, Penjualan Dihentikan Sementara

Produk Beeru Stevia tengah menjadi polemik usai seorang netizen mengeluhkan penggunaannya selama bertahun-tahun untuk sang ayah yang menderita diabetes/Foto : Dok. Beeru Indonesia Produk Beeru Stevia tengah menjadi polemik usai seorang netizen mengeluhkan penggunaannya selama bertahun-tahun untuk sang ayah yang menderita diabetes/Foto : Dok. Beeru Indonesia

Jakarta, GPriority.co.id – Produk pemanis stevia merek Beeru menjadi sorotan setelah seorang konsumen mengeluhkan penggunaannya selama bertahun-tahun untuk ayahnya yang menderita diabetes.

Polemik ini mencuat melalui unggahan media sosial yang mempertanyakan kesesuaian komposisi produk dengan informasi pada kemasan.

Keluhan tersebut dibagikan akun Threads @umimins dan turut menjadi perbincangan setelah diangkat akun Instagram @pencerahans. Pihak Beeru Indonesia kemudian menyampaikan klarifikasi serta mengumumkan penghentian sementara penjualan produk Beeru Stevia selama proses verifikasi berlangsung.

Dalam unggahannya, @umimins mengungkapkan kekecewaan karena ayahnya telah menggunakan produk tersebut selama bertahun-tahun sebagai pengganti gula.

“Siapapun pemilik Beeru semoga hisabnya dibuat susah sama Allah. Jahat banget kalian. Bapakku diabetes dan bertahun2 pakai produk kalian, makanya kok gula darahnya tinggi terus padahal udah stop gula,” keluhnya.

Ia kemudian mempertanyakan kandungan produk yang menurutnya diklaim sebagai stevia murni.

“Ternyata subtitusi gulanya yang diklaim murni stevia malah isinya full pemanis buatan. Semoga @beeruindonesia kalian bangkrut dunia akhirat. Jahat banget tau ga,” lanjutnya.

Meski demikian, keluhan mengenai kadar gula darah tersebut belum membuktikan bahwa produk menjadi penyebabnya. Dugaan ketidaksesuaian kandungan juga masih memerlukan pembuktian melalui hasil pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Unggahan yang beredar memperlihatkan kemasan dengan komposisi glikosida steviol dan air. Sementara itu, informasi yang dibagikan di media sosial menyebut dugaan keberadaan sukralosa dan neotam berdasarkan hasil uji yang diklaim telah dilakukan.

Informasi tersebut belum dapat dipastikan tanpa laporan laboratorium lengkap, identitas sampel, serta verifikasi terhadap produk yang beredar.

Unggahan itu juga menyoroti angka energi 188,84 kkal per 100 gram dan karbohidrat 47,21 persen. Namun, angka tersebut perlu diperiksa bersama informasi takaran saji, metode pengujian, dan ketentuan klaim gizi yang berlaku.

Melalui pernyataan di akun Instagram @beeruindonesia, pihak perusahaan menjelaskan bahwa produknya dibuat bersama mitra manufaktur.

“Perlu kami sampaikan bahwa Beeru Stevia diproduksi melalui kerja sama dengan mitra manufaktur yang menangani formulasi, pengadaan bahan baku, dan proses produksi. Saat ini kami sedang berkoordinasi dengan pihak manufaktur dan melakukan verifikasi lebih lanjut,” jelas pihak Beeru.

Perusahaan juga menyatakan menghentikan sementara penjualan Beeru Stevia hingga proses verifikasi selesai. Pernyataan tersebut belum memastikan apakah dugaan kandungan yang beredar benar atau tidak.

Sesuai pedoman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), label pangan olahan harus memberikan informasi yang benar dan tidak menyesatkan. Karena itu, hasil verifikasi komposisi dan penjelasan resmi mengenai kandungan produk menjadi penting bagi konsumen.