London, GPriority.co.id – Pemerintah Inggris mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan air minum dan makanan untuk menghadapi kemungkinan gangguan layanan penting, di tengah peringatan mengenai potensi konflik bersenjata dalam sekitar 1.000 hari ke depan.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyebut negara-negara yang memusuhi Inggris berpotensi memiliki kemampuan menyerang menjelang 2030.
Dilansir dari The Independent dan Anadolu Agency, Rabu (28/10), Streeting menyampaikan peringatan tersebut melalui tulisannya di surat kabar The Telegraph. Ia menyoroti peningkatan kemampuan militer dan ekonomi perang pihak-pihak yang dianggap sebagai ancaman, termasuk Rusia.
“Ini memberi kita waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan meraih kemenangan,” tulis Streeting.
Ia juga menegaskan bahwa Inggris perlu mengantisipasi ancaman terorisme yang disponsori negara serta meningkatkan kesiapan pertahanan nasional. Menurutnya, ancaman tersebut bukan sekadar kemungkinan yang jauh dari kehidupan masyarakat Inggris.
“Menghadapi ancaman-ancaman tersebut yang bukan sekadar hipotesis melainkan nyata, dan bukan terjadi di tempat lain melainkan semakin terasa di sini kita harus meningkatkan upaya dan menanggapi ketahanan nasional serta pertahanan nasional kita dengan serius,” ungkap Streeting.
Peringatan tersebut muncul bersamaan dengan kampanye pemerintah bertajuk Be Ready, yang mendorong masyarakat mempersiapkan kebutuhan dasar untuk menghadapi keadaan darurat. Pemerintah menyarankan setiap orang menyediakan sekitar sembilan liter air minum kemasan dan persediaan makanan tahan lama untuk tiga hari.
Selain makanan dan air, warga dianjurkan menyiapkan selimut, uang tunai, kotak pertolongan pertama, senter beserta baterai cadangan, serta radio FM bertenaga baterai atau engkol. Perlengkapan tersebut diperlukan apabila terjadi pemadaman listrik atau gangguan layanan komunikasi dan pembayaran.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menegaskan bahwa imbauan tersebut bukan bertujuan menimbulkan kepanikan, melainkan mendorong langkah pencegahan yang masuk akal.
“Ini bukan tentang panik, melainkan mengambil langkah-langkah yang masuk akal untuk memiliki persediaan yang cukup di rumah agar bisa bertahan ketika terjadi situasi sulit,” ujarnya, sebagaimana dikutip dalam laporan The Independent.
Direktur Jenderal MI5, Sir Ken McCallum, sebelumnya juga menyerukan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi ancaman terhadap infrastruktur nasional. Ia memperingatkan bahwa peretasan, penggunaan drone, dan serangan siber berpotensi mengganggu layanan perbankan, penerbangan, hingga rumah sakit.
Melalui kampanye Be Ready, pemerintah Inggris menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi beragam keadaan darurat, mulai dari cuaca ekstrem hingga gangguan teknologi dan ancaman keamanan.
Imbauan tersebut tidak berarti perang dipastikan terjadi dalam 1.000 hari. Pemerintah mendorong masyarakat meningkatkan kesiapan agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi ketika layanan penting mengalami gangguan.
