Penulis : Haris | Editor : Lina F. | Foto : Biro Adpim Sultra |
Sultra, GPriority.co.id-Berdasarkan laporan TPID, laju inflasi di Sultra Triwulan pertama mencapai 6,58 persen.
Nilai ini merupakan inflasi tahunan tertinggi secara nasional pada Triwulan I 2023, sehingga perlu menjadi perhatian seluruh pihak terkait di Sulawesi Tenggara.
“Menurut laporan penyumbang terbesar inflasi di Sultra dari sektor transportasi dan kelompok makanan, minuman, serta tembakau,” jelas Ali Mazi.
Untuk daerah penyumbang tertinggi berdasarkan Indeks Pergerakan Harga (IPH) di beberapa kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, yang pertama Konawe, Buton Tengah, dan Konawe Kepulauan.
Menyikapi ancaman inflasi di atas, serta menindaklanjuti arahan Presiden RI, Gubernur Ali Mazi pun membeberkan strateginya.
Yang pertama, Menjaga Frekuensi Operasi Pasar atau pasar murah dan sidak pasar untuk memastikan keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan komoditas;
Kedua, meningkatkan intensitas pengawasan oleh APH dan Satgas Pangan.
Ketiga, menjaga operasi pasar yang bebas pungli, dan berdampak pada masyarakat luas.
Keempat, menjaga distribusi LPG 3 kg, BBM subsidi, minyak goreng, beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang lancar, sesuai tujuan, dan terhindar dari oknum tidak bertanggung jawab.
Kelima, menjaga kualitas bahan pangan dan komoditas lainnya sesuai ketentuan, di antaranya mencegah dan menghentikan dilakukannya pengoplosan minyak goreng ataupun penggunaan pestisida berlebihan pada bahan pangan.
Keenam, memastikan pasokan komoditas pangan dari luar Sulawesi Tenggara dengan permintaan tinggi pada HBKN Idul Fitri, seperti daging sapi, telur, dan daging ayam ras agar dapat melalui bongkar muat dengan lancar.
Ketujuh, mendorong realisasi belanja sosial dan Belanja Tidak Terduga (BTT) di level provinsi hingga kabupaten/kota dan memastikan program pengendalian inflasi sesuai ketentuan dengan bantuan bimbingan teknis dari inspektorat, instansi vertikal maupun Forkompinda.
Delapan, meningkatkan komunikasi efektif melalui berbagai publikasi untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat menjelang HBKN Idul Fitri.
Sembilan, intensifikasi publikasi kegiatan Extra Effort Kepala Daerah maupun Forkopimda terkait dengan pengendalian inflasi.
Sepuluh, publikasi penetapan dan penyebarluasan informasi terkait HET beberapa komoditas pangan yang rentan mengalami kenaikan harga di lokasi-lokasi strategis.
Sebelas, kampanye belanja bijak dan berdagang berkah melalui berbagai media massa dengan menggandeng institusi keagamaan (MUI dan pesantren).
Menutup sambutannya, Ali Mazi berharap agar sinergitas dan kolaborasi terus dilakukan sehingga inflasi yang tinggi bisa kembali menurun.
