Jakarta, GPriority.co.id – Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat pada tahun 2023, sebanyak 9,9 juta Gen Z (berusia 15-24 tahun), merupakan pengangguran bahkan ada juga yang tidak bersekolah. Dengan kata lain, mereka juga tidak terlibat dalam kegiatan produktif apapun.
Dari total 44,47 juta remaja berusia 15-24 tahun, secara nasional sebanyak 22,25 persen diklasifikasikan sebagai NEET (Not in Education, Employment, or Training) atau Tidak dalam Pendidikan, Pekerjaan, atau Pelatihan, pada Agustus 2023 lalu.
Dari 9,9 juta remaja NEET, sebanyak 5,73 juta atau 26,54 persen merupakan perempuan, dan 4,17 juta atau 18,21 persen adalah laki-laki.
Menganggapi hal tersebut, seorang Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memberikan pendapatnya. Rakhmat menilai, bukannya bersemangat, kebanyak Gen Z di Indonesia malah lebih memilih untuk bersantai-santai. Menurutnya, ini merupakan sebuah hal serius.
“Ini harus menjadi warning atau rambu-rambu, peringatan buat Gen Z kita. Bahwa sebenarnya ini ada masalah serius ya,” ujar Rakhmat.
Lebih lanjut Rakhmat mengatakan, Gen Z memiliki peran penting dalam menghadapi bonus demografi ke depan. Termasuk dalam menyongsong Indonesia emas pada 2045.
“Jadi, ini di satu sisi adalah satu kritik terhadap Gen Z. Tapi sekaligus juga ini peringatan, hati-hati gitu ya, kondisi Gen Z sekarang ini jangan dibiarkan seperti itu,” tegasnya.
Rakhmat menuturkan, permasalahan ini juga harus mendapatkan perhatian ekstra dari pemerintah Indonesia.
“Bisa jadi ini akan terus meningkat setiap tahun. Makanya, perlu ada perhatian ekstra dari pemerintah,” ungkapnya.
Foto : Ilustrasi / Campaign Asia
