Ekonomi Indonesia Melemah dan Terus Deflasi, Kenapa Konser Tetap Ramai?

Ekonomi Indonesia Melemah dan Terus Deflasi, Kenapa Konser Tetap Ramai? Ekonomi Indonesia Melemah dan Terus Deflasi, Kenapa Konser Tetap Ramai?

Jakarta, GPriority.co.id – Ekonomi Indonesia dilaporkan sedang melemah dan terus deflasi. Hingga September kemarin, Indonesia deflasi lagi sebesar 0,12 persen. Bahkan deflasi ini sudah terjadi selama lima bulan berturut-turut, dari Mei-September.

Deflasi Indonesia dari Mei-September kemarin, dinilai sebagai kondisi terburuk ekonomi Indonesia sejak 1998. Hal ini dikarenakan daya beli masyarakat Indonesia yang melemah.

Namun disaat ekonomi Indonesia melemah, kenapa justru pembelian tiket konser dan barang-barang viral lain seperti Labubu, justru meningkat?

Hal ini sebenarnya bisa dijelaskan melalui teori dari Lipstick Index.

Lipstick Index mengatakan ketika kondisi ekonomi sedang lesu, justru penjualan barang-barang affordable luxury seperti lipstick dan parfum, malah makin meningkat.

Oleh karena itu, para ekonom sering melihat penjualan lipstick sebagai indikator apakah ekonomi akan bergerak menuju resesi atau sebaliknya.

Teori Lipstick Index lahir pada tahun 2001. Kala itu Leonard Lauder, pewaris kerajaan perusahaan kosmetik Estee Lauder, menyadari jika penjualan lipstick mereka malah meningkat di tahun 2001, saat kondisi ekonomi AS sedang resesi.

Lauder mengatakan jika penjualan lipstick dan kondisi ekonomi memiliki hubungan terbalik. Ketika penjualan lipstick meningkat, justru ekonomi akan memburuk.

Ketika ekonomi memburuk dan hal-hal besar (seperti mobil dan rumah) tidak dapat terbeli, maka konsumen tetap memutuskan untuk membeli sesuatu yang affordable sebagai bentuk morale boost.

Akibatnya, penjualan barang atau jasa yang bersifat affordable luxury akan terus meningkat.

Penjelasan rasional lain yang bisa menjelaskan fenomena ini ialah karena tekanan daya beli tidak dialami oleh semua lapisan masyarakat.

Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, fenomena makan tabungan ternyata hanya dialami oleh golongan menengah dan bawah.

Di sisi lain, kalangan menengah atas dan atas, justru mencatatkan nilai tabungan yang melonjak.

Menurut data nasabah Bank Mandiri, indeks tabungan justru naik dari level 100 di awal 2024, menjadi 106,2 pada Juli 2024.

Itulah mengapa disaat data ekonomi secara agregat menunjukkan pelemahan (deflasi, penurunan indeks manufaktur, dan beritak PHK ada dimana-mana, justru segelintir aktivitas ekonomi masih terus menemukan demand-nya.

Saat ini, ada lapisan kelas ekonomi di Indonesia yang memang tak terganggu daya belinya.

Foto : Ilustrasi/Kemenparekraf RI