Tarakan, GPriority.co.id – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengukuhkan posisinya dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat dengan mencatatkan tingkat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 2,17 persen per 1 September 2026. Angka ini menempatkan Kaltara sebagai provinsi dengan inflasi terendah se-Indonesia.
Pencapaian tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M. Tito Karnavian secara hibrid dari Jakarta, Senin (7/9). Rakor ini diikuti oleh seluruh kepala daerah, BPS, Perum Bulog, serta instansi terkait dari seluruh Indonesia.
Gubernur Kaltara Dr. H. Zainal A Paliwang, S.H., M.Hum., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltara, Bank Indonesia, Bulog, BPS, unsur Forkopimda, serta pemerintah kabupaten/kota atas kerja keras dan sinergi yang terbangun.
“Alhamdulillah, Kaltara berhasil mencatatkan inflasi tahunan sebesar 2,17 persen pada Agustus 2026, yang merupakan angka terendah secara nasional. Ini bukti konkret dari kerja bersama dalam mengawal ketersediaan bahan pokok dan menjaga keterjangkauan harga untuk masyarakat Kaltara,” ujar Gubernur Zainal.
Guna memastikan inflasi tetap terkendali dalam rentang target nasional (1,5% hingga 3,5%), Pemprov bersama seluruh stakeholder hingga kabupaten/kota secara konsisten menjalankan strategi Framework 4K. Langkah ini diawali dengan menjaga keterjangkauan harga melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) secara masif sebanyak 21 kali hingga Agustus 2026, serta memperluas Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk komoditas strategis.
Pada aspek ketersediaan pasokan, pemerintah daerah fokus menguatkan produksi pangan lokal, khususnya cabai rawit, melalui penerapan teknologi pertanian modern seperti greenhouse, drip irrigation, dan sensor tanah.
Di sisi lain, kelancaran distribusi diakselerasi lewat efisiensi logistik pelabuhan serta program Fasilitas Distribusi Pangan (FDP) yang menyasar kawasan perbatasan dan terpencil seperti Tulin Onsoi, Sebuku, dan Lumbis.
Upaya tersebut disempurnakan melalui komunikasi efektif yang intensif, mengedukasi masyarakat agar berbelanja secara bijak sekaligus mengoptimalkan potensi pangan lokal secara berkelanjutan.
Rendahnya angka inflasi di Kaltara juga ditopang oleh penurunan harga (deflasi) pada sejumlah komoditas utama, seperti tomat, bawang merah, beras, serta penurunan biaya angkutan udara yang dipengaruhi oleh normalisasi harga avtur.
Mendagri Tito Karnavian dalam arahannya turut mengapresiasi daerah-daerah yang berhasil menekan angka inflasi di bawah rerata nasional dan mengimbau agar strategi penanganan pasokan pangan terus diperkuat menghadapi dinamika global.
Gubernur Zainal menegaskan, Pemprov Kaltara tidak akan berpuas diri dan bakal terus meningkatkan pengawasan rantai pasok pangan hingga akhir tahun.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kita semua. Pemprov Kaltara bersama TPID dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas pasokan dan distribusi, khususnya di wilayah perbatasan, agar ekonomi daerah tetap tangguh dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” pungkasnya.
Foto : Ro Adpim Kaltara
