Sritex, Produsen Seragam Militer Ternama yang Sekarang Keteter

Jakarta, Gpriority.co.id – PT Sritex atau PT Sri Rejeki Isman Tbk selain dikenal sebagai produsen fesyen, juga penghasil seragam militer nasional dan internasional. Sayang kondisi terakhir PT Sritex dinyatakan pailit.

Sejarah PT Sritex bermula dari bisnis tekstil Muhammad Lukminto, pendirinya, di Pasar Klewer. Sejak itu fokus usahanya ialah mengembangkan produk fesyen. Secara resmi PT Sritex diresmikan Presiden Soeharto pada tahun 1993.

Invasi ke bisnis seragam militer bermula dari pesanan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dan Polri ketika itu. Tergiur peluang bisnis di penyediaan seragam militer, Lukminto lantas mengalihkan prioritas produksi.

Dari pesanan ABRI dan Polri itu, seragam militer besutan PT Sritex kemudian mendunia. Hal ini bermula banyaknya personel ABRI bertukar seragam dengan militer dari negara lain. Hal itu membuka jalan bagi Sritex merambah pasar internasional.

Tak dinyana kualitas seragam militer Sritex diakui oleh tentara asing. Bahkan seragam militer Sritex pernah dites yang hasilnya lebih baik dari seragam militer produksi Amerika. Berangkat dari hal itu, di tahun 1994 Sritex mulai mengerjakan seragam pesanan pasukan negara-negara di bawah NATO. Sritex berhasil mengantongi sertifikat dari organisasi pakta pertahanan Atlantik Utara itu sehingga pesanan pun mulai berdatangan. Tidak sampai disitu, Sritex juga merupakan satu-satunya pemegang lisensi di Asia yang berhak memproduksi seragam militer Jerman. Tercatat, Sritex sudah membuat pakaian militer untuk lebih dari 33 negara.

Biasanya para negara asing memesan desain seragam militernya sangat berbeda dengan negara lainnya baik tipe camo dan warnanya. Hal ini tak lepas dari ciri khas masing-masing negara pemesannya. Disamping ciri khas, seragam yang dipesan juga memiliki klasifikasi tertentu yang sangat mumpuni. Misalnya bisa tahan api hingga 700 derajat celcius.

Umumnya, negara Eropa mempunyai permintaan bahan antiradiasi dan api. Ada yang anti radiasi, anti nyamuk, anti api (hingga 700 derajat celsius). Seragam anti api ini menggunakan bahan yang dipakai oleh anggota NASA, yaitu Polybenzimidazole (PBI). Bahan ini konon mampu menahan panas hingga suhu 700 derajat celcsius.

Seragam militer produksi PT Sritex sendiri umumnya terdiri dari seragam tempur, jaket, rompi, tenda dan sepatu. Dalam hal menjaga standarisasi kualitas produksi, PT Sritex sudah mandiri menggunakan bahan baku hasil produksi sendiri, mulai dari kapas yang ditenun menjadi benang dan kain, sampai menjadi pakaian jadi.

Sayang, dominasi produk seragam militer PT Sritex tengah menuju ‘makamnya.’ Minggu ini kabar mengejutkan datang dari Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang. Dimana Perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex dinyatakan pailit. Utang menggunung mencapai triliunan rupiah jadi penyebabnya.

Keputusan pailit Sritex dinyatakan Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang berdasarkan nomor perkara 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg. Perkara itu dimohonkan PT Indo Bharta Rayon selaku kreditur Sritex terhadap para termohon yakni PT Sri Rejeki Isman Tbk, PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya.

Rabu ini (30/10) Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan cara pemerintah menyelamatkan PT Sri Rejeki Isman atau PT Sritex, salah satunya dengan memastikan operasional perusahaan tetap berjalan. “Sekarang yang penting perusahaan ini masih tetap berjalan. Bea Cukai juga telah memberikan izin untuk impor dan ekspor, meskipun manajemen kini berada di bawah pengawasan kurator,” ujarnya dalam konferensi pers di Kemenko Perekonomian. Disisi lain pemerintah juga menghormati proses hukum yang tengah berlangsung seraya memikirkan kebijakan apa yang kelak akan ditempuh untuk menyelamatkan Sritex.

Foto : PT Sritex