Perbankan Daerah Dorong Pertumbuhan Ekonomi secara Inklusif dan Berkelanjutan

Jakarta, GPriority.co.id– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan untuk mendorong pengembangan serta penguatan peran perbankan daerah, termasuk perbankan syariah. Hal ini dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara inklusif dan berkelanjutan. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menekankan pentingnya perbankan daerah untuk lebih memainkan peranannya, agar perkembangan perbankan berkorelasi positif dengan kondisi perekonomian nasional dan perekonomian daerah.

“Perbankan daerah perlu terus meningkatan kinerja dan kontribusi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah masing-masing, sehingga secara agregat akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional. Kami mengharapkan sinergi antar pihak-pihak terkait di daerah, yakni Bank Indonesia, OJK dan lembaga terkait lainnya dapat terus ditingkatkan,” ujar Dian saat 

kegiatan Dialog Bersama Industri Perbankan dikutip Rabu (26/3).

Dian juga menyampaikan bahwa forum ini merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan dialog terkait perkembangan perbankan daerah. Menurutnya, bahwa saat ini sesuai dengan undang-undang, OJK memiliki peran untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah melalui penciptaan dan pengembangan sumber-sumber ekonomi baru di daerah. 

Selanjutnya, untuk mendukung peran perbankan daerah, OJK telah menerbitkan Roadmap Penguatan Bank Pembangunan Daerah 2024-2027 serta Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR BPRS 2024-2027.

Sebelumnya, pada Pertemuan Industri Tahunan Jasa Keuangan 2025 yang lalu, OJK telah memproyeksikan pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan pada tahun 2025 berada di kisaran 9-11 persen, didukung dengan penghimpunan Dana Pihak Ketiga yang meningkat level 6-8 persen. Adapun proyeksi ini merefleksikan prospek positif pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik yang masih terus berlanjut. 

“Perbankan nasional diharapkan dapat berperan aktif untuk menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan dengan penyediaan pembiayaan bagi pertumbuhan kegiatan perekonomian nasional,” ucapnya.

Data OJK mencatat industri perbankan nasional dalam kondisi stabil dengan pertumbuhan aset Bank Umum sebesar 6,34 persen yoy pada Januari 2025 menjadi Rp 12.410,7 triliun. Kinerja intermediasi perbankan juga tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. 

Pertumbuhan kredit tetap melanjutkan double digit growth sebesar 10,27 persen yoy menjadi Rp 7.782,2 triliun. Dari sisi lain, Dana Pihak Ketiga perbankan sebesar 5,51 persen yoy menjadi Rp 8.879,3 triliun.

Perbankan syariah juga menunjukkan perkembangan yang baik. Berdasarkan data hingga Januari 2025, total aset tercatat tumbuh 9,17 persen yoy menjadi sebesar Rp 948,2 triliun dengan market share tercatat senilai 7,5 persen. Dari sisi intermediasi, total penyaluran pembiayaan tercatat sebesar Rp 639,1 triliun atau tumbuh 9,77 persen yoy. Sementara Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp 737,4 triliun atau tumbuh 9,85 persen yoy.

Dari sisi lain, kinerja industri BPR/S juga relatif stabil. Adapun fungsi intermediasi industri BPR/S tetap baik, dengan kredit/pembiayaan tumbuh 5,41 persen yoy menjadi Rp 166,4 triliun serta Dana Pihak Ketiga meningkat sebanyak 8,70 persen yoy menjadi Rp 166,5 triliun per Desember 2024.

Searah dengan pertumbuhan tingkat nasional, pelaku industri perbankan di wilayah Solo Raya juga mampu mencatatkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Total Aset Perbankan Solo Raya meningkat 2,29 persen yoy menjadi Rp 119,53 triliun di tengah kontraksi penyaluran kredit/pembiayaan sebesar minus Rp2,8 triliun (-2,64 persen yoy) menjadi Rp 103,6 triliun. Namun begitu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga mampu mencetak kenaikan sebesar 3,1 persen yoy menjadi Rp 97,8 triliun. Perolehan ini merepresentasikan adanya ruang perbaikan untuk pemulihan pembiayaan di tengah pengetatan kondisi likuiditas.

Foto: Dok. OJK