Jakarta, GPriority.co.id – Seorang antropolog politik komparatif di University of Amsterdam, Ward Berenschot, mengamati fenomena buzzer di tanah air. Ia menyebut, saat ini buzzer sudah menjadi industri di Indonesia.
Dilansir melalui sebuah laporan, Ward menyampaikan hal ini usai ia melakukan riset terkait kejahatan siber di Indonesia selama 5 tahun lamanya. Dalam penelitian tersebut, Ward menemukan fakta jika buzzer digunakan oleh banyak elite politik serta bisnis, guna mempengaruhi opini publik di media sosial.
Adapun Ward mengungkapkan, tugas utama buzzer ialah menciptakan konten yang viral dan kemudian membentuk opini masyarakat. Mereka kemudian dikerahkan untuk menanggapi berbagai isu yang mencuat, terutama berkaitan dengan sosial dan politik.
Hingga saat ini, pekerjaan ini seringkali digunakan bukan hanya untuk mengganggu, tapi juga membelokkan serta memblurkan pesan dari suatu isu yang sedang hangat dibincangkan masyarakat. Bahkan mereka juga bertugas untuk membentuk manipuasi yang paling destruktif pada media sosial di tanah air.
Mereka bekerja dengan cara membanjiri media sosial dengan berbagai narasi menyesatkan hingga akhirnya mengalihkan perhatian publik dari isu utama. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu sempat muncul berita korupsi dari seorang politikus. Namun tiba-tiba banyak berita mengenai artis yang selingkuh atau hamil hingga akhirnya perhatian publik pun teralihkan.
Tak sedikit juga yang menyebarkan informasi hoax, bahkan membuat teori konspirasi hingga akhirnya publik menjadi ragu dan menyerukan konflik agar suatu gerakan pada akhirnya tak berjalan lancar.
Menurut riset khusus yang diterbitkan oleh University of Oxford pada tahun 2019 lalu, bayar buzzer di Indonesia berkisar Rp1-50 juta rupiah. Sementara menurut LP3ES, pekerjaan ini terbagi menjadi beberapa posisi layaknya pekerja di kantor pada umumnya.
Mulai dari buzzer itu sendiri, koordinator, hingga influencer. Masing-masing posisi juga mendapatkan bayaran yang berbeda tergantung seberapa besar peran mereka.
Misalnya saja untuk buzzer dengan rentang 50-100 akun, per orangnya akan mendapat Rp2-7 juta. Sementara untuk koordinator, mereka mendapat Rp5-15 juta per proyek. Terakhir yang paling tinggi adalah influencer, dimana mereka dinilai memiliki power yang paling besar, dengan bayaran hingga mencapai Rp20 juta.
