Zulhas Akui MBG Gagal: Anggaran Jumbo, Masalah Tak Kunjung Usai

Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), secara terbuka mengakui program MBG gagal dalam pelaksanaannya/ Foto : Dok. Instagram @zul.hasan Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), secara terbuka mengakui program MBG gagal dalam pelaksanaannya/ Foto : Dok. Instagram @zul.hasan

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) secara terbuka mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya. Pernyataan itu disampaikan Zulhas dalam Seminar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Bandar Lampung, Jumat (4/9) lalu.

“Apa yang gagal, MBG. MBG kita akui gagal,” kata Zulhas dalam pidatonya.

Lebih lanjut ia juga menyoroti besarnya anggaran yang telah dikeluarkan pemerintah, tetapi berbagai persoalan masih muncul meski program tersebut telah berjalan hampir dua tahun.

“Anggaran besar, sudah hampir dua tahun masalah tidak berhenti, termasuk yang terakhir (keracunan massal),” ujar Zulhas.

Menurut Zulhas, besarnya anggaran tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah program apabila tidak disertai manajemen dan pengawasan yang memadai. Karena itu, pemerintah memilih melakukan pembenahan terhadap pelaksanaan program MBG, bukan menghentikannya.

Zulhas mengatakan persoalan manajemen yang dinilai bermasalah telah diproses. Presiden Prabowo Subianto juga disebut telah menunjuk pihak baru untuk melakukan perbaikan. Pemerintah meminta waktu sekitar satu hingga dua bulan untuk memperbaiki berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.

“Anggaran besar sudah hampir dua tahun ya, masalah enggak berhenti, termasuk yang terakhir. Oleh karena itu MBG harus kita selesaikan,” tegas Zulhas.

Keracunan MBG Tembus 50.059 Orang

Pengakuan Zulhas muncul di tengah sorotan terhadap kasus keracunan makanan dalam program MBG yang terus terjadi di berbagai daerah.

Berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan yang disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris, sebanyak 50.059 orang tercatat menjadi korban dalam 560 kejadian di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota per 2 September 2026.

Charles menilai jumlah tersebut menunjukkan persoalan MBG sudah bersifat sistemik, bukan sekadar kesalahan pada satu dapur atau penyedia makanan. Ia mendorong perubahan sistem, termasuk opsi dapur berbasis sekolah untuk menekan risiko keracunan.

Kasus terbaru juga kembali menjadi perhatian setelah siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Febiona Purba (16), dilaporkan mengalami gangguan ingatan setelah diduga keracunan menu MBG dengan lauk ikan tongkol. Keluarga menyebut korban sempat tidak mengenali anggota keluarga dan teman-temannya. Kondisinya juga disertai kejang serta kesulitan berbicara.

Meski menghadapi berbagai persoalan tersebut, pemerintah memastikan MBG tetap dilanjutkan dengan fokus pada evaluasi dan perbaikan. Tantangannya kini adalah memastikan pembenahan benar-benar mampu meningkatkan keamanan pangan, kualitas makanan, pengawasan, serta manajemen agar tujuan program makan bergizi bagi masyarakat tidak justru menimbulkan persoalan baru.