Menkeu Purbaya Beri Insentif Rp300 Miliar bagi Daerah yang Berhasil Turunkan Stunting

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto : Dok. Kemenkeu RI Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto : Dok. Kemenkeu RI

Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan pemberian insentif sebesar Rp300 miliar bagi provinsi, kabupaten, dan kota yang berhasil menurunkan angka stunting di Indonesia.

Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 330 Tahun 2025 tentang Penetapan Pengalokasian dan Persyaratan Penyaluran serta Rincian Alokasi Dana Insentif Fiskal Tahun Anggaran 2025 untuk Penghargaan Kinerja Tahun Berjalan Kategori Penurunan Stunting Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota, yang ditandatangani oleh Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa pada 10 November 2025.

“Menetapkan alokasi Dana Insentif Fiskal tahun anggaran 2025 untuk penghargaan kinerja tahun berjalan kategori penurunan stunting sebesar Rp300 miliar dengan rincian alokasi menurut provinsi/kabupaten/kota sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini,” isi bagian kedua surat keputusan tersebut, dikutip Kamis (13/11).

Dana tersebut berasal dari sisa Dana Insentif Fiskal (DIF) tahun berjalan dan dialokasikan kepada sejumlah daerah yang menunjukkan capaian signifikan dalam penurunan prevalensi stunting.

Berikut rincian alokasi DIF tahun anggaran 2025 untuk penghargaan kinerja tahun berjalan kategori kinerja penurunan stunting menurut provinsi/kabupaten/kota, diantaranya:

1. Provinsi Sumatera Utara – Rp5.358.460

2. Kab. Deli Serdang – Rp5.611.684

3. Kota Tebing Tinggi – Rp5.461.683

4. Kab. Batu Bara – Rp5.836.438

5. Kab. Ogan Komering Ulu Timur – Rp5.648.595

6. Kab. Penukal Abab Lematang Ilir – Rp5.596.234

7. Kab. Pringsewu – Rp5.724.985

8. Kab. Bandung – Rp6.509.327

9. Kab. Bogor – Rp5.935.710

10. Kab. Garut – Rp5.673.252

11. Kab. Karawang – Rp6.997.236

12. Kota Sukabumi – Rp5.526.341

13. Kab. Demak – Rp5.983.618

14. Kab. Kudus – Rp6.008.720

15. Kab. Pemalang – Rp5.655.294

16. Kab. Sukoharjo – Rp6.663.411

17. Kab. Bojonegoro – Rp 5.902.726

18. Kab. Jombang – Rp6.590.448

19. Kab. Lumajang – Rp5.673.976

20. Kab. Magetan – Rp5.933.687

21. Kab. Malang – Rp5.671.990

22. Kab. Mojokerto – Rp6.922.979

23. Kab. Nganjuk – Rp5.687.981

24. Kab. Pasuruan – Rp7.147.236

25. Kab. Tuban – Rp5.709.750

26. Kota Blitar – Rp6.407.817

27. Kota Madiun -Rp7.100.187

28. Kota Mojokerto – Rp6.296.448

29. Kota Batu – Rp5.562.351

30. Kab. Hulu Sungai Selatan – Rp5.668.220

31. Provinsi Sulawesi Tengah – Rp5.675.543

32. Kab. Morowali – Rp5.701.860

33. Kota Palu – Rp6.169.810

34. Provinsi Sulawesi Selatan – Rp6.965.997

35. Kab. Bantaeng – Rp6.536.863

36. Kab. Gowa – Rp5.556.583

37. Kab. Maros – Rp6.006.958

38. Kab. Pinrang – Rp6.620.596

39. Kab. Sinjai – Rp5.600.297

40. Kab. Sidenreng Rappang – Rp5.652.576

41. Kab. Takalar – Rp6.111.456

42. Kab. Wajo – Rp5.596.017

43. Kab. Gianyar – Rp5.618.627

44. Kab. Klungkung – Rp5.625.746

45. Kab. Tabanan – Rp5.757.964

46. Kab. Sumbawa Barat – Rp5.726.760

47. Kab. Tangerang – Rp7.223.557

48. Kota Serang – Rp5.499.048

49. Kota Tangerang Selatan – Rp5.976.316

50. Kab. Bintan – Rp5.910.642

Total alokasi dibagi menjadi Rp18 miliar untuk tingkat provinsi dan Rp282 miliar untuk kabupaten/kota, sehingga total nasional mencapai Rp300 miliar

Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan penurunan angka stunting menjadi 18,8% pada tahun 2025. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan kerja keras dan koordinasi yang lebih intensif, terutama di enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar, yakni Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893), Jawa Timur (430.780), Sumatera Utara (316.456), Nusa Tenggara Timur (214.143), dan Banten (209.600).