Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah survei yang diterbitkan pada jurnal Psychological Science menemukan 10 pilihan dalam hidup yang paling banyak membuat stres.
Dikutip dari laporan NY Post, dalam survei tersebut para peneliti melibatkan lebih dari 4.000 responden. Mereka diminta membuat daftar keputusan sulit yang baru-baru ini mereka pilih.
Dengan mengkategorikan apa yang ditulis responden, para peneliti kemudian menyusun 100 pilihan hidup yang paling banyak membuat para responden merasa stres. Dalam daftar tersebut, keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan karier medominasi di urutan atas.
Terlepas dari usia dan jenis kelamin, menerima pekerjaan baru atau tidak, mengisi urutan pertama dalam daftar tersebut dan diikuti dengan pengunduran diri dari pekerjaan. Sementara pilihan menjadi wiraswasta berada pada urutan kelima.
Memilih untuk berinvestasi pun berada pada urutan ketiga. Uniknya, memilih mengendarai mobil juga masuk ke dalam pilihan sulit dan menempati posisi keempat. Terlebih saat lelah, teralihkan perhatiannya, cuaca buruk, hingga saat berada dalam kondisi mabuk. Pasalnya, laporan menyebut 40.900 orang meninggal dalam kecelakaan berkendara di Amerika Serikat pada tahun 2023 lalu.
Sementara itu, pilihan yang paling membuat stres di urutan keenam ialah membeli rumah. Dalam daftar tersebut, empat pilihan terakhir termasuk dalam kategori kesehatan dan sosial. Seperti memutuskan untuk menjalankan operasi dan vaksinasi pada posisi ketujuh dan kesembilan.
Terakhir, pada posisi kedelapan dan kesepuluh, berkaitan dengan aspek sosial kehidupan. Responden banyak yang merasa kesulitan memilih menikah serta pindah ke negara baru (imigrasi).
Para peneliti menyebut, dalam mengambil keputusan atau pilhan hidup, faktor usia cukup berperan. Misalnya saja bagi orang yang lebih tua, memilih pekerjaan baru dinilai memiliki banyak resiko. Sementara bagi generasi muda, berhenti dari pekerjaan yang sudah ada justru berisiko tinggi.
“Terlepas dari itu, peneliti percaya bahwa temuan ini dapat membantu memberikan dukungan yang lebih baik kepada berbagai kelompok untuk mengambil keputusan,” tulis Renato Frey, seorang profesor psikologi di Universitas Zurich sekaligus salah satu peneliti yang terlibat.
