BBM Langka di Sulsel, Harga Pertalite Eceran Tembus Rp35 Ribu

Kelangkaan BBM di Sulawesi Selatan (Sulsel) mendorong harga Pertalite eceran melonjak hingga Rp35.000 per liter/Foto : Ilustrasi Dok. Istimewa Kelangkaan BBM di Sulawesi Selatan (Sulsel) mendorong harga Pertalite eceran melonjak hingga Rp35.000 per liter/Foto : Ilustrasi Dok. Istimewa

Makassar, GPriority.co.id – Kelangkaan BBM di Sulawesi Selatan (Sulsel) membuat masyarakat harus menghadapi antrean panjang di sejumlah SPBU.
Kondisi tersebut juga mendorong harga Pertalite eceran melonjak hingga Rp35.000 per liter, jauh di atas harga resmi Pertalite yang masih ditetapkan Rp10.000 per liter.

ANTARA melaporkan, harga Pertalite eceran yang sebelumnya sekitar Rp15.000 kini mencapai Rp35.000 untuk ukuran botol besar air mineral. Sementara ukuran botol sedang dijual sekitar Rp25.000. Salah seorang warga Manggala, Makassar, Rahma, mengaku rela membayar lebih mahal daripada harus mengantre berjam-jam.

“Saya tidak masalah beli lebih mahal daripada mengantri berjam-jam. Ini saja sulit bisa dapat,” ujar Rahma.

Kelangkaan dan antrean BBM juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemprov Sulsel sebelumnya menggelar rapat koordinasi bersama Pertamina Patra Niaga, kepolisian, Hiswana Migas, dan sejumlah organisasi perangkat daerah untuk mengidentifikasi penyebab antrean serta mencari solusi distribusi BBM bersubsidi.

Di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), pemerintah daerah turut melakukan pemantauan langsung. Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau mengatakan stok Pertalite dan Solar di salah satu SPBU mencapai sekitar 16 kiloliter per hari.

“Kami harapkan setiap SPBU di Pangkep, khususnya Pertalite dan Solar, segera terisi agar tidak menyebabkan antrean dan kemacetan,” ujar Yusran.

Salah satu penyebab tekanan pasokan adalah meningkatnya konsumsi Pertalite secara nasional. BPH Migas mencatat konsumsi Pertalite pada Juli 2026 melonjak 12,92 persen dibandingkan rata-rata konsumsi harian normal. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga BBM nonsubsidi, terutama Pertamax, mengalami penyesuaian sehingga sebagian konsumen beralih ke Pertalite.

Di tengah kelangkaan BBM subsidi, harga BBM nonsubsidi juga menghadapi tekanan. Pertamina Patra Niaga memperkirakan harga Pertamax dapat berada di kisaran Rp18.000-Rp20.000 per liter apabila harga minyak dunia tidak kembali turun ke US$60-US$70 per barel.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan konflik geopolitik dan gangguan distribusi melalui Selat Hormuz membuat harga minyak dunia belum stabil.

“Jadi kalau berharap turun ke USD70 per barrel atau USD60 per barrel seperti sebelum terjadinya krisis geopolitik. Kita doakan semoga itu bisa terjadi, kalau tidak kondisinya akan berdampak seperti sekarang harga Pertamax itu akan berkisaran antara di atas Rp18.000 sampai Rp20.000,” ujar Eko.

Saat ini harga Pertamax masih Rp15.950 per liter. Sementara Pertalite tetap Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800 per liter.