Australia, GPriority.co.id – Salah satu tersangka teror dalam insiden penembakan Hanukkah di Pantai Bondi, terungkap. Pada Minggu (14/12) kemarin, pemuda yang diketahui bernama Naveed Akram (24 tahun) tersebut diduga melepaskan tembakan bersama ayahnya ke ribuan orang Yahudi yang merayakan Hanukkah.
Keduanya menyerang 1.000 orang yang berkumpul di acara ‘Chanukah by the Sea’ di pantai Sydney. Dari insiden tersebut 15 orang berusia 10 hingga 87 tahun meninggal, sementara 40 lainnya luka-luka. Serangan dilaporkan berlangsung selama 10 menit, sebelum seorang penjual buah bernama Ahmed Al-Ahemd, menyelinap mendekati Akram dan menjatuhkannya ke tanah.
Akram dilaporkan pernah belajar agama di sebuah pusat Islam di Australia, yang memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi yang dikelola muslim lainnya di negara tersebut. Dirinya bahkan disebut menguasai tajwid, hukum bacaan dalam Al-Qur’an, dan mempelajarinya di Institut Al-Murad.
“Salah satu murid kesayangan saya, Naveed Akram, sedang menyelesaikan buku-buku Iqra dan tajwid pagi ini, ia menyempurnakan semua aturan tajwidnya,” tulis Adam Ismail, Kepala Institut Al-Murad, dalam unggahan Facebook. Namun tak lama setelah insiden, postingan tersebut pun dihapusnya.
Selain Akram, tersangka pelaku penembakan sebelumnya telah diselidiki pada tahun 2019. Pelaku tersebut disebut memiliki keterlibatan dengan terorisme dan tergabung dalam Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO), lembaga setara Polri di negara tersebut, dikutip dari laporan ABC News.
ASIO juga meyakini bahwa Akram dan ayahnya, Sajid (50 tahun), telah tergabung dengan ISIS sebelum serangan itu terjadi. Pasalnya, penyelidik terorisme menemukan bendera ISIS di kendaraan mereka.
Sementara itu, sejak kejadian penembakan Hanukkah, Institut Al-Murad menghapus laman web serta akun media sosial mereka. Meski Ismail menyebut telah lama kehilangan kontak dengan Akram pada tahun 2022, namun namanya ikut disoroti publik. Ia menyebut, insiden ini membuatnya mendapatkan ancama kematian hingga memaksa Ismail dan keluarganya meninggalkan rumah mereka, sebagaimana dikutip dari laporan Sydney Morning Herald.
“Saya sangat terpukul melihat foto-foto para korban di Bondi,” ungkap Ismail kepada media.
Akram sendiri merupakan warga negara kelahiran Australia, sementara ayahnya yang berusia 50 tahun, tiba di negara itu pada tahun 1998 dengan visa pelajar. Ia kemudian mengubahnya menjadi visa pasangan pada tahun 2011, ungkap Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke.
Sejak saat itu, ayah Akram yang tewas di tempat kejadian saat baku tempat dengan polisi tersebut, diketahui telah melakukan tiga perjalanan ke luar negeri, dan kembali dengan visa penduduk tetap.
Saat ini Akram terluka parah dan dibawa ke rumah sakit. Para pejabat setempat menyebut akan ada tuntutan terhadap Akram atas insiden yang dilakukannya. Perlu diketahui, aksi penembakan brutal ini merupakan penembakan massal yang paling mematikan di Australia. Sebelumnya terjadi aksi serupa pada serangan port Arthur di tahun 1996.
