Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia mendesak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengambil langkah nyata dan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai tindakan Israel yang dinilai terus melanggar hukum internasional.
Desakan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri RI (Wamenlu) Anis Matta dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri Luar Biasa ke-23 OKI (KTM-LB) di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (27/8).
Dalam forum tersebut, Indonesia kembali menyoroti situasi Palestina, termasuk kekerasan, perluasan permukiman ilegal, aneksasi tanah Palestina, serta pembunuhan warga Palestina. Pemerintah Indonesia menilai kondisi di Timur Tengah semakin kritis dan dampak konflik regional telah meluas melampaui kawasan tersebut.
Anis Matta menegaskan OKI perlu meningkatkan perannya agar tidak berhenti pada kecaman terhadap Israel. Menurutnya, organisasi yang beranggotakan negara-negara Muslim tersebut harus memiliki langkah konkret untuk merespons berbagai persoalan yang terjadi di Palestina.
“OKI harus mampu membangun wibawa organisasi, tidak dengan kecaman dan pernyataan, melainkan melalui aksi nyata dan berkelanjutan,” kata Anis dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (30/8).
Ia juga menilai kemampuan negara-negara anggota OKI untuk menjaga kerja sama tengah diuji di tengah situasi yang berkembang. Indonesia berpandangan Israel memanfaatkan terpecahnya perhatian OKI dengan terus melanjutkan berbagai tindakan yang menjadi perhatian masyarakat internasional.
Karena itu, Indonesia mendorong OKI memaksimalkan mekanisme yang dimiliki untuk memastikan adanya pertanggungjawaban atas tindakan Israel.
“OKI harus memaksimalkan kemampuan dan mekanismenya untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas berbagai kejahatannya serta mengkategorikan tindakan kekerasan para pemukim ilegal sebagai aksi terorisme,” katanya.
Selain membahas konflik Israel-Palestina, KTM-LB ke-23 OKI juga menyepakati Ismail Ould Cheikh Ahmed sebagai Sekretaris Jenderal OKI periode 2026–2031. Ia menggantikan Hissein Brahim Taha dari Chad dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Mauritania.
Di sela-sela pertemuan, Anis melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pejabat dari Sudan, Palestina, Qatar, Turki, dan Somalia. Pertemuan tersebut membahas kerja sama bilateral serta isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama.
Partisipasi Indonesia dalam KTM-LB OKI menjadi bagian dari upaya menjalankan amanat konstitusi untuk berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Indonesia menilai penghentian perang di Timur Tengah perlu terus diupayakan karena dampaknya telah dirasakan berbagai negara.
