Penulis: Haris I Editor: Lina F Foto: Istimewa
Bandung, Gpriority – Dalam karya musiknya, sebagaimana tampak pada NUN (for strings trio), Soe Tjen Marching piawai me-compose musik dengan rasional. Struktur harmoni terdengar begitu rapat dan ketat, sukar diprediksi (lazimnya musik atonal) dan karenanya mensyaratkan siapa pun yang memainkan karya ini punya keterampilan teknis dan konsentrasi tinggi.
Sedikit banyak, kecenderungan demikian terlihat juga pada puisi-puisi Soe Tjen Marching dalam Tiga Kitab (Teroka Press, 2023). Kompleksitas gagasan berkelindan dengan tipografi yang sarat perhitungan. Ikhtiar menggugat doktrin-doktrin mapan pada berbagai kitab suci dikemas secara apik dan segar lewat ungkapan-ungkapan humor, satire, lirih, bahkan sarkastik.
Untuk itu semua, Soe Tjen meminjam semangat puisi epik, bentuk puisi panjang yang identik dengan kisah-kisah kepahlawanan, untuk mempertanyakan hakikat kekuasaan dan kesucian—juga penyisihan peran perempuan—yang lewat doktrin agama-agama kadung diterima manusia sebagai kewajaran dari zaman ke zaman.
“Saya mencoba menyilang berbagai unsur dari agama-agama yang berbeda,” ungkap Soe Tjen, membocorkan strategi puitik karya anyarnya.
‘Percobaan’ itu muncul dari amatan Soe Tjen terkait kultur di Indonesia yang cenderung menempatkan agama sebagai entitas yang ekslusif. Contohnya, saat seseorang mempelajari suatu agama, mempelajari agama lain seolah merupakan perbuatan terlarang. Dan tak jarang, fanatisme dalam beragama membuat seseorang kerap merasa suci dan benar sendiri.
“Coba kalau kisahnya dibandingkan, bisa mbulet,” sambung Soe Tjen Marching, dosen senior dalam bidang Bahasa dan Kebudayaan di SOAS University of London.
Dalam lawatannya ke Bandung kali ini, Soe Tjen dan penerbit Teroka Press (Jakarta) bakal menyelenggarakan kegiatan bedah buku di Kedai Jante Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Bandung. Kegiatan dengan tajuk “Yang Rumpang dan Yang Rampung dari Tiga Kitab” tersebut diselenggarakan atas kerja sama dengan #Jumaahan, program diskusi mingguan yang rutin diadakan sejak awal Januari 2023 di tempat yang sama.
“Sebagai penyelanggara, kami merasa terhormat dan bangga sebab buku puisi Tiga Kitab karya Soe Tjen Marching bakal didiskusikan untuk pertama kalinya di Bandung, di Kedai Jante,” ungkap Zulkifli Songyanan, salah seorang panitia Jumaahan.
Setelah keluar dari percetakan beberapa waktu lalu, Tiga Kitab memang belum dibicarakan di mana pun. Pihak Teroka Press menjadwalkan bakal mengadakan rangkaian diskusi Tiga Kitab—mumpung Soe Tjen sedang di Indonesia—dan Jumaahan dipercaya menjadi penyelenggara perdana rangkaian diskusi tersebut, disusul Kios Ojo Keos di Jakarta sehari setelahnya.
Soe Tjen Marching merupakan penulis dan komponis, serta menjadi dosen senior di Departemen Bahasa dan Budaya di SOAS University of London. Soe Tjen sempat menjadi salah seorang pemenang kompetisi tingkat nasional di Indonesia pada 1998, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Jerman dan Mercedes Benz. Pada Juni 2010, karya musiknya menjadi salah satu pemenang kompetisi Internasional avant-garde yang diadakan di Singapura. Soe Tjen sudah menerbitkan beberapa novel, antara lain Mati Bertahun yang Lalu, Kubunuh di Sini, dan Dari Dalam Kubur. Selain itu, ia juga menerbitkan beberapa buku akademik dalam bahasa Inggris.
Di samping kumpulan puisi Tiga Kitab (Teroka Press), karya Soe Tjen Marching yang belum lama terbit adalah karya nonfiksi Yang Tak Kunjung Padam: Narasi Eksil Politik Indonesia di Jerman (EA Books).
Digelar pada jam ngabuburit, kegiatan buku puisi Tiga Kitab di Bandung bakal dilaksanakan pada Jumat, 7 April 2023 jam 16.00 WIB s/d selesai. Calon peserta diskusi diharapkan melakukan registrasi pada tautan berikut: bit.ly/tigakitabbandung.
