Cak Imin sebut Angka Pertumbuhan Ekonomi 5,04% Tak Sesuai Fakta di Lapangan

Jakarta, GPriority.co.id - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di Acara INDEF, Kamis (20/11)/Foto Fifi Abdurahman Jakarta, GPriority.co.id - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di Acara INDEF, Kamis (20/11)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menyoroti pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,04 persen. 

Menurutnya, capaian tersebut belum sejalan dengan kondisi di lapangan, di mana banyak masyarakat kelas bawah masih menghadapi kesulitan.

Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk tidak sekadar terpaku pada angka statistik, melainkan melihat ekonomi dari denyut kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Bapak-Ibu sekalian ketika berbicara tentang perekonomian Indonesia sering kali kita terpaku pada angka-angka yang kita lalui dalam bahasa ringkasan eksekutif. Bukan berarti angka-angka statistik itu salah, namun saatnya kita melihat perekonomian Indonesia dari sumber penyentuhnya yaitu kehidupan masyarakat,” ucap Cak Imin saat meyampaikan pidato dalam Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026, Kamis (20/11).

Ia mencontohkan, para pekerja yang pendapatannya sulit mengejar kenaikan harga kebutuhan, petani dan nelayan yang masih bekerja dengan pola produksi stagnan, pekerja informal yang belum terlindungi kesejahteraannya, hingga pelaku UMKM yang hidup dalam kecemasan pendapatan.

“Inilah fakta-fakta situasi dan tantangan yang kita hadapi satu dekade terakhir,” ucapnya.

Cak Imin menyatakan bahwa potensi ekonomi terbesar Indonesia berada di desa, namun desa juga menjadi wilayah dengan kemiskinan ekstrem tertinggi. Dari 23,85 juta penduduk miskin, sekitar 2,38 juta di antaranya berada dalam kemiskinan ekstrem, dan setengahnya tinggal di desa.

“Kita juga menyaksikan angka kini rasio terus turun, saat ini 0,38, tetapi di saat yang sama kita juga mendapati bahwa 1 persen orang terkaya menguasai hampir 50 persen total kekayaan nasional kita,” tuturnya.

Menurutnya, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi selama ini masih berjalan di dua jalur berbeda, yakni makro tumbuh namun mikro bertahan. 

“PDB naik tetapi pendapatan keluarga stagnan, ekonomi berkembang tetapi aksesnya tidak selalu mudah. Inilah yang saya sebut sebagai kemacetan struktural, ekonomi tidak menetes dari atas ke bawah, ia bertahan di kantong-kantong sebagian orang sementara sebagian lain tetap hidup dengan kantong yang kosong,” jelasnya.

Ia juga mengakui bahwa selama 10 tahun terakhir, pendekatan negara terhadap kemiskinan lebih menyerupai model negara kesejahteraan, yaitu hanya menyediakan perlindungan sosial dasar tanpa mendorong pemberdayaan.

“Di sisi yang lain kita harus mengakui pendekatan negara terhadap kemiskinan selama ini lebih dekat kepada model negara kesejahteraan, negara hanya bertindak sebagai penyedia perlindungan sosial dasar tetapi tidak mendukung pemberdayaan,” pungkas Cak Imin.