Jakarta, GPriority.co.id – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyoroti eskalasi kebijakan tarif yang direncanakan oleh Pemerintah Amerika Serikat terhadap produk impor, termasuk furnitur, yang dinilai dapat menekan daya saing ekspor Indonesia.
Ketua HIMKI, Abdul Sobur, mengatakan bahwa furnitur kayu menjadi tulang punggung ekspor mebel nasional ke Amerika Serikat, dengan kontribusi mencapai sekitar 60 persen dari total ekspor furnitur ke negara tersebut. Nilainya diperkirakan mencapai US$1,5 miliar per tahun.
“Jika tarif tambahan ini diberlakukan, industri furnitur Indonesia berisiko kehilangan daya saing harga, penurunan pesanan, hingga pengurangan kapasitas produksi. Ini menjadi alarm serius bagi pelaku industri,” jelas Abdul Sobur dalam keterangan tertulis yang diterima GPriority, Selasa (16/9).
Ia juga menambahkan bahwa industri mebel dan kerajinan merupakan sektor strategis karena tidak hanya mengandalkan hasil hutan dan perkebunan, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
HIMKI berharap pemerintah Indonesia segera melakukan langkah konkret, terutama diplomasi dan advokasi, agar produk Indonesia mendapat pengecualian dari kebijakan tarif tersebut.
Di sisi lain, HIMKI terus mendorong pelaku industri untuk memperkuat diversifikasi pasar, guna mengurangi ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat. Kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, India, dan Eropa dinilai memiliki potensi besar sebagai pasar baru.
Saat ini, kontribusi ekspor ke Eropa masih berada pada kisaran 11-13%. HIMKI berharap implementasi perjanjian IEU-CEPA dapat mendorong percepatan peningkatan ekspor ke Benua Biru.
IFEX 2026: Ajang Strategis Dorong Ekspor dan Inovasi Industri Mebel
Sebagai bagian dari upaya mendorong ekspor dan memperkuat posisi industri furnitur Indonesia di mata global, HIMKI bersama Dyandra Promosindo akan kembali menggelar Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 pada 5–8 Maret 2026.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, IFEX 2026 akan dilaksanakan di ICE BSD City, Tangerang Selatan, yang memiliki kapasitas lebih besar dengan 11 hall dan fasilitas modern. Langkah ini diambil guna mengakomodasi peningkatan jumlah peserta pameran dan menghadirkan pengalaman lebih nyaman bagi buyers internasional.
“IFEX 2026 akan menjadi pameran furnitur yang inklusif, inovatif, dan berdampak langsung terhadap industri. Kami ingin menjadikannya sebagai barometer furnitur Asia Tenggara dan destinasi utama buyers global,” ujar Daswar Marpaung, Presiden Direktur Dyandra Promosindo.
IFEX dikenal sebagai platform internasional utama di Indonesia untuk sektor mebel dan kerajinan. Pameran ini konsisten menampilkan produk-produk unggulan berbasis material alami, ukiran kayu khas Nusantara, hingga furnitur daur ulang yang berwawasan lingkungan.
“Dengan kapasitas venue yang lebih besar, IFEX 2026 tidak hanya sekadar pameran dagang, tapi juga menjadi wadah edukasi pasar, jejaring bisnis global, dan akselerator ekspor nasional,” tutup Abdul Sobur.
Registrasi untuk buyers IFEX 2026 akan dibuka pada September 2025 melalui situs resmi https://ifexindonesia.com. Informasi lebih lanjut juga dapat diakses melalui akun Instagram resmi @ifex_id.
