Jakarta, GPriority.co.id – Pendakian Gunung Rinjani akan diberlakukan standar operasional prosedur (SOP) baru mulai 11 Agustus 2025. Peraturan ini sebagai evaluasi dari sejumlah kejadian yang terjadi di jalur pendakian beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Nur Aulia menjelaskan bahwa SOP tersebut dibahas mulai 1 hingga 10 Agustus bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) serta seluruh stakeholder terkait.
“Sekarang kami terus koordinasi dengan TNGR. Insyaallah SOP akan paralel dilaksanakan pasca-masa pemeliharaan jalur,” kata Ahmad dikutip Antara, Selasa (6/8).
Sambil menunggu SOP rampung, seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup. Hal ini untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pendaki.
Ahmad mengatakan, pihaknya akan melakukan pelatihan peningkatan SDM kepada 371 porter dan pemandu Gunung Rinjani. Pelatihan ini dilakukan pada saat pendakiaan tutup.
“Karena itu kesempatan. Selama ini kan kita kesulitan mencari pemandu dan porter kalau masa musim ramai atau high season di Rinjani, karena semua pada bawa tamu,” tuturnya.
Ia menyebut, dari 611 porter dan pemandu di Gunung Rinjani, 371 orang diantarannya belum diberikan sertifikasi pemandu. Adapun dari 371 orang tersebut, 50 pemandu telah diberikan sertifikasi selama masa pemeliharaan jalur pemeliharaan jalur Gunung Rinjani.
“Jadi masih ada tersisa sejumlah 321 orang dan 50 (orang) sudah kita berikan pelatihan. Sisanya di masa pemeliharaan itu kita gencarkan 1-10 Agustus,” kata Ahmad.
Ahmad menjelaskan, pembekalan pelatihan kepada ratusan pemandu itu diberikan pengetahuan dasar mengenai penanganan kesehatan dasar dan keselamatan. Kemudian, pemendu juga diberikan pemahaman soal pelaksanaan penyelamatan dasar saat terjadi insiden di Rinjani.
Sebelumnya, Kepala Balai TNGR, Yarman menjelaskan revisi SOP pendakian Gunung Rinjani akan dilakukan bersama seluruh pihak, pemerintah daerah, termasuk pelaku pariwisata dan masyarakat.
“Ini kita bicara tata kelola Rinjani usai kasus Juliana kemarin. Kami sampaikan ada beberapa evaluasi. Ada evaluasi SDM kami sendiri dan pelaku wisata, sarana termasuk SOP akan kita revisi bersama,” kata Yarman.
Adapun revisi SOP tersebut juga dibahas oleh kelompok kerja (pokja). Pokja dibentuk berasal dari berbagai kalangan, termasuk TNGR, Pemprov NTB dan pihak-pihak lainnya.
“Nanti pokja sendiri yang membicarakan terkait peran masing-masing. Jadi poin dalam SOP ini porter, TO, guide apa peranannya. Ya mudahan bisa segera terealisasikan. Nanti akan ada pertemuan lanjutan,” ucapnya.
