Jakarta, GPriority.co.id – Pulau Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya selalu menjadi destinasi favorit. Tak heran, pulau ini menyimpan segudang potensi terutama spot diving terbaik di dunia hingga disebut “kepingan surga yang jatuh ke bumi”.
Keunikan kawasan ini terletak pada keberagaman spot diving di empat pulau besarnya, yang masing-masing memiliki daya tarik tersendiri.
“Jadi setiap tempat pulau besar di Raja Ampat itu punya spot diving masing-masing yang menarik dan berbeda,” ujar Konstantinus Saleo salah satu pengusaha wisata lokal di Raja Ampat saat ditemui GPriority di pameran Deep Dive into Marine Action & Global Expertise, Balai Kartini, Jakarta, Jumat (24/4).
Konstantinus yang juga merupakan owner dari Dayan Dive Homestay Raja Ampat menjelaskan, ada lokasi tertentu yang didominasi biota makro.
Sementara itu, di tempat lain wisatawan juga dapat menemukan ikan-ikan besar seperti barakuda hingga ikan Napoleon.
“Jadi satu pulau ini punya spot diving yang hanya ada makronya dan di tempat lain, di pulau lain ada seperti ikan besar atau barakuda, Napoleon, jadi semua tempat itu punya sesuatu yang spesial,” ungkapnya
Ia mengatakan, salah satu wilayah yang menonjol adalah Pulau Batanta. Pulau ini dikenal sebagai habitat berbagai biota laut menarik, termasuk manta ray dan dugong yang menjadi daya tarik utama.
“Batanta itu spesialnya adalah ikan dugong atau duyung. Di sana kami punya juga,” katanya.
Diketahui, Raja Ampat memiliki gugusan Kepulauan yang membentang di area seluas kurang lebih 4,6 juta hektare. Kawasan ini memiliki 2.713 pulau dengan empat pulau utama, yaitu Waigeo, Salawati, Misool dan tentunya Batanta.
Yang tak kalah penting, untuk berlibur di kawasan Raja Ampat, wisatawan akan memasuki kawasan konservasi, yang merupakan habitat asli dan alami dari berbagai spesies endemik dan langka di Dunia.
Selain kekayaan bawah laut, untuk berwisata ke Raja Ampat tak perlu khawatir mengenai transportasi hingga akomodasinya. Disana, kata dia, juga telah tersedia berbagai fasilitas bagi wisatawan, mulai dari transportasi hingga akomodasi berbasis homestay yang mempertahankan kearifan lokal.
“Nah homestay itu bentuknya seperti rumah-rumah tradisional yang zaman dulu Raja Ampat punya, rumah mereka. Itu yang kami pertahankan sampai hari ini,” jelasnya.
Tak hanya selam, wisatawan juga dapat menikmati berbagai aktivitas lain seperti snorkeling, trekking, hingga surfing yang kini mulai berkembang di Pulau Ayau.
“Sekarang Raja Ampat mulai ada satu tempat yang ada atraksi wisata surfing. Cuma satu tempat di Raja Ampat, di Pulau Ayau itu sudah mulai berkembang,” ungkapnya.
Menariknya, Konstantinus menuturkan dukungan pemerintah juga dinilai berperan penting dalam pengembangan pariwisata di kawasan ini terutama dalam hal promosi yang melibatkan masyarakat lokal.
“Mereka selalu libatkan masyarakat lokal yang bergerak di dunia wisata, seperti homestay atau dive center,” ujarnya.
Lebih lanjut, Konstantinus pun menegaskan bahwa Raja Ampat terbuka bagi siapa saja yang ingin menikmati keindahan alamnya.
“Raja Ampat adalah surga terakhir di dunia. Sebelum mati harus berkunjung ke Raja Ampat dulu untuk lihat surganya dunia,” ucapnya.
