Dokter Ungkap Alasan Berat Badan Sulit Turun Meski Diet dan Olahraga

Kebiasaan tidur larut malam ternyata dapat menghambat upaya menurunkan berat badan. Meski sudah menjalani pola makan sehat dan rutin berolahraga, pola tidur yang tidak teratur dapat memengaruhi metabolisme dan keseimbangan hormon dalam tubuh.

Banyak orang fokus pada diet dan olahraga untuk menurunkan berat badan, namun sering mengabaikan faktor tidur. Padahal, waktu tidur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

Kebiasaan tidur larut malam bisa menimbulkan dampak kontraproduktif terhadap upaya penurunan berat badan, yang umumnya mencakup penerapan diet sehat dan olahraga rutin.

Tidur larut malam dapat mengganggu jadwal biologis alami tubuh, yang berdampak signifikan terhadap metabolisme, keseimbangan hormon, dan pencernaan.

Sebagaimana dikutip dari laman Hindustan Times yang siar Minggu (15/2) waktu setempat, dr. Amit Saraf selaku direktur penyakit dalam Jupiter Hospital di India menyampaikan bahwa tidur larut malam mempengaruhi penurunan berat badan bahkan pada orang yang disiplin mengikuti diet dan berolahraga teratur.

Menurut dia, hal itu terjadi karena tidur larut malam, terutama beberapa jam sebelum tengah malam, dapat mengganggu jadwal biologis alami tubuh serta memengaruhi metabolisme, keseimbangan hormon, serta pencernaan.

“Setelah sekitar pukul 22.30, tubuh perlahan memasuki fase alami ‘perlambatan pencernaan’. Jika seseorang tetap terjaga hingga larut, tubuh berada dalam kondisi stres, yang meningkatkan kadar kortisol,” ia menjelaskan.

Kortisol merupakan hormon stres yang membantu tubuh tetap waspada dalam kondisi darurat. Namun, ketika kadar hormon ini terus tinggi pada malam hari, proses metabolisme dapat terganggu.

“Ketika kortisol tetap tinggi di malam hari, penyimpanan lemak menjadi lebih mudah dan pembakaran lemak menjadi lebih lambat, tidak peduli seberapa sehat makanan yang dikonsumsi,” kata dr. Saraf.

“Inilah sebabnya orang yang makan dengan baik pun masih kesulitan menurunkan berat badan…,” ia menambahkan.

Metabolisme sendiri memiliki peran penting dalam proses penurunan berat badan. Ketika metabolisme berjalan optimal, tubuh lebih efektif menggunakan kalori sebagai energi dibanding menyimpannya sebagai lemak.

Berkaitan dengan hal itu, dr. Saraf menjelaskan tubuh memiliki ritme metabolisme alami. Proses perbaikan sel dan metabolisme paling efisien biasanya terjadi antara pukul 23.00 hingga 03.00.

Menunda waktu tidur hingga larut malam dapat mengganggu ritme tersebut dan memicu kondisi yang disebut sebagai “fase kekacauan metabolisme”.

“Kontrol gula menjadi lebih lemah, hormon lapar menjadi bingung, dan keinginan makan meningkat keesokan harinya,” kata dia.

Ia juga menjelaskan bahwa waktu tidur dapat memengaruhi respons tubuh terhadap makanan. Bahkan sarapan sehat pun dapat memicu lonjakan insulin yang lebih tinggi jika seseorang tidur terlalu larut.

Kondisi tersebut dapat mengganggu pengendalian gula darah serta membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih sulit.

Selain itu, tidur larut malam juga memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Ketidakseimbangan hormon ini dapat membuat seseorang merasa lebih lapar, terutama terhadap makanan tinggi karbohidrat, sehingga meningkatkan risiko makan berlebihan.

Tak hanya itu, kebiasaan begadang juga dapat mengganggu proses detoksifikasi alami tubuh.

Kalau orang begadang sampai melewati pukul 23.00, dr. Saraf mengatakan, maka “fase gangguan detoksifikasi” akan bermula, pencernaan menjadi lambat, kembung lebih sering terjadi, dan pembersihan alami tubuh melambat.

Untuk menghindari dampak tersebut, ia menyarankan agar waktu tidur disesuaikan secara bertahap. Cara yang dapat dilakukan adalah memajukan waktu tidur sekitar 15 hingga 20 menit setiap malam selama beberapa hari.

Selain itu, beberapa kebiasaan juga dapat membantu meningkatkan kualitas tidur, seperti menghindari makan malam berat, menyelesaikan makan setidaknya tiga jam sebelum tidur, mengurangi penggunaan layar gadget, serta meredupkan lampu menjelang waktu istirahat.