Jakarta Terpapar Abu Krakatau, Ini 5 Cara Lindungi Anak dari Bahayanya

5 cara orang tua lindungi anak dari dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, salah satunya menggunakan masker sesuai usia anak/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik 5 cara orang tua lindungi anak dari dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, salah satunya menggunakan masker sesuai usia anak/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah mencapai sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Berdasarkan analisis citra satelit BMKG pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Kondisi ini membuat kelompok anak perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap paparan abu vulkanik.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel abu dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Anak juga lebih sensitif terhadap polusi abu karena frekuensi napas mereka lebih tinggi dan proporsi ukuran paru terhadap tubuh berbeda dibandingkan orang dewasa.

Risiko dapat lebih berat pada anak yang memiliki asma, alergi saluran napas, bronkitis, atau gangguan paru. Lantas, apa yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau?

Pertama, tetap berada di dalam rumah. Tutup rapat pintu dan jendela agar abu tidak masuk. Aktivitas bermain di luar sebaiknya ditunda dan diganti dengan kegiatan di dalam rumah. Saat membersihkan abu, gunakan metode basah dan hindari menyapu kering karena dapat membuat partikel abu kembali beterbangan. IDAI juga menyarankan anak dijauhkan dari lokasi yang terdampak abu.

Kedua, gunakan masker yang sesuai. Anak yang harus keluar rumah perlu menggunakan masker yang terpasang dengan baik. Untuk anak dengan kondisi pernapasan tertentu, orang tua perlu mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter. IDAI menekankan pentingnya penggunaan masker khusus anak serta memastikan pemasangannya benar.

Ketiga, lindungi mata dan kulit. Abu vulkanik dapat menyebabkan mata merah, gatal, berair hingga mengiritasi kornea. Jika mata terkena abu, bilas menggunakan air bersih dan jangan digosok. Anak yang terpaksa keluar juga sebaiknya mengenakan pakaian tertutup dan membersihkan diri setelah kembali ke rumah.

Keempat, jangan menakut-nakuti anak. Orang tua perlu menjelaskan kondisi dengan bahasa sesuai usia dan meyakinkan anak bahwa keluarga sedang melakukan langkah perlindungan. Batasi paparan video atau informasi menakutkan di media sosial agar kecemasan anak tidak semakin meningkat.

Kelima, kenali tanda bahaya. Anak perlu segera mendapatkan pertolongan medis jika mengalami sesak napas, napas berbunyi atau cepat, batuk berat, nyeri mata yang tidak membaik, atau gejala pernapasan yang memburuk, terutama pada anak dengan riwayat asma. IDAI mengingatkan gangguan saluran napas akibat abu vulkanik tidak boleh diabaikan.

Orang tua juga disarankan memantau perkembangan sebaran abu dan informasi kualitas udara dari sumber resmi. BMKG hingga kini terus melakukan pemantauan 24 jam terhadap dampak erupsi Anak Krakatau terhadap atmosfer dan wilayah terdampak.