Jakarta, GPriority.co.id – Merespon serangan gabungan yang dilancarkan AS-Israel ke negaranya hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi pun menyerukan kutukan untuk dua negara tersebut.
Disampaikannya dalam sesi konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3) kemarin, Boroujerdi mengatakan jika serangan AS-Israel kepada Iran merupakan tindakan ilegal hingga melanggar hukum internasional. Padahal, selama ini Iran telah mematuhi berbagai kesepakatan internasional.
“Kami berharap negara-negara Islam apabila melihat serangan ini, ini merupakan langkah ilegal. Oleh karenanya, perlu diberikan kutukan secara keras terhadap serangan tersebut,” tegas Boroujerdi.
Selain mengecam secara terbuka dan tegas terhadap serangan yang dinilai melanggar hukum internasional tersebut, Boroujerdi menyampaikan jika pemerintah Iran berharap negara-negara Islam dapat menggunakan seluruh kapasitas diplomatiknya di forum multilateral seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memberi dukungan kepada Iran.
Lebih lanjut, Boroujerdi mewakili pemerintah Iran juga mendorong kampanye kolektif dari negara-negara Islam agar secara tegas menolak perang dan mencegah ekskalasi konflik yang lebih luas.
Dalam kesempatan tersebut, Boroujerdi melaporkan jika sebanyak 555 warga sipil Iran telah tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan AS-Israel pada Sabtu (28/2) lalu.
Ia menuturkan, serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas non-militer seperti sekolah, rumah sakit, hingga permukiman warga. Menurutnya, serangan ini telah menimbulkan korban kemanusiaan dalam jumlah besar, bahkan didominasi oleh warga sipil yang tidak terlibat konflik.
“Hingga saat ini, 555 warga negara saya gugur. Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Begitu pun dengan lebih dari 200 anak sekolah dasar,” lapor Boroujerdi.
Lebih mirisnya, banyak korban berjatuhan merupakan umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, termasuk pasien di rumah sakit.
“Serangan ini menunjukkan ketidakpatuhan terhadap jalur diplomasi. Kami diserang bahkan ketika kami sedang berada di meja perundingan,” pungkasnya.
