Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia memiliki sedikitnya 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat. Namun, konsumsi masyarakat masih banyak bertumpu pada beras, padahal jagung, sagu, singkong, ubi, dan sorgum berpotensi menjadi bagian dari menu sehari-hari sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Data tersebut tercantum dalam Direktori Pangan Lokal 2019 yang diterbitkan Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, serta kembali disampaikan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Kekayaan pangan Indonesia juga mencakup 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 110 jenis rempah dan bumbu, serta 26 jenis kacang-kacangan.
Meski pilihannya beragam, kebiasaan makan nasi masih kuat di masyarakat. Padahal, diversifikasi pangan atau penganekaragaman konsumsi pangan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu komoditas sekaligus mengoptimalkan potensi pangan lokal.
Dalam penjelasan yang dipublikasikan Bapanas, Rinna Syawal, SP., MP., Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas di Badan Pangan Nasional (Bapanas), menyoroti kebiasaan masyarakat yang mengidentikkan rasa kenyang dengan nasi.
“Selama ini yang terjadi di lingkungan kita, kenyang identik dengan nasi. Harus disampaikan jika sumber karbohidrat itu tidak melulu dari beras, dalam hal ini dimasak menjadi nasi. Jadi harapannya ketergantungan pada satu komoditas yaitu beras dapat kita putus di generasi mendatang,” tegas Rinna.
Upaya diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti menu makanan. Pemanfaatan bahan pangan lokal juga berpotensi memperluas kegiatan ekonomi, mulai dari budidaya oleh petani, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran produk oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu contoh pengembangan komoditas alternatif adalah sorgum di Bandung, Jawa Barat. Laporan Kementerian Perdagangan menyebut produsen lokal mengembangkan beras sorgum dan tepung sorgum yang telah dipasarkan di sejumlah supermarket. Pengolahan tersebut membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dapat tumbuh di Indonesia.
Di sisi pemasaran, produk pangan UMKM juga mulai memperoleh akses ke jaringan ritel modern. Kementerian Perdagangan mengumumkan bahwa 10 produk pangan dari UMKM binaannya masuk ke 19 gerai AEON Indonesia pada September 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, “Sinergi Kemendag dengan ritel modern menjadi upaya menjawab tantangan pembukaan pasar yang lebih luas bagi UMKM kita yang berkualitas.”
Pengembangan pangan lokal membutuhkan lebih dari sekadar ajakan untuk mengubah pola makan. Ketersediaan produk, harga yang terjangkau, kualitas pengolahan, serta distribusi yang konsisten turut menentukan penerimaan konsumen.
Dengan memperluas pilihan karbohidrat dari jagung, sagu, singkong, ubi, hingga sorgum, Indonesia berpeluang memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan usaha daerah. Tantangannya adalah memastikan kekayaan pangan tersebut benar-benar hadir di meja makan masyarakat dan memiliki pasar yang berkelanjutan.
