Jakarta, GPriority.co.id – Tempe bukan sekadar makanan murah dan sumber protein nabati. Makanan fermentasi khas Indonesia ini juga menarik perhatian karena kandungan senyawa mikronutrien yang berpotensi mendukung fungsi tubuh, termasuk kesehatan otak. Namun, benarkah rutin makan tempe bisa membuat seseorang panjang umur?
Dilansir dari unggahan Instagram @aplausmedia, perhatian peneliti tertuju pada queuosine, senyawa mikronutrien yang berkaitan dengan aktivitas bakteri dan ditemukan dalam sistem biologis manusia. Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari University of Florida dan Trinity College Dublin turut mengungkap mekanisme tubuh menyerap mikronutrien tersebut ke dalam sel.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada Juni 2025 menemukan gen yang berperan dalam transportasi queuosine dan queuine ke dalam sel. Temuan ini membuka peluang penelitian lanjutan mengenai peran mikronutrien tersebut dalam kesehatan otak dan mekanisme pertahanan tubuh terhadap kanker.
Queuosine dan Potensinya bagi Kesehatan Otak
Queuosine merupakan senyawa yang berhubungan dengan modifikasi RNA transfer (tRNA), molekul yang membantu proses penerjemahan informasi genetik menjadi protein. Proses tersebut penting bagi fungsi sel, termasuk sel saraf.
Penelitian sebelumnya yang diterbitkan dalam jurnal The EMBO Journal pada 2023 menemukan bahwa gangguan proses yang melibatkan queuosine pada model tikus berkaitan dengan masalah pembentukan memori dan kemampuan belajar. Meski demikian, hasil penelitian pada hewan tidak otomatis membuktikan manfaat yang sama pada manusia.
Makanan fermentasi menjadi salah satu sumber senyawa yang menarik diteliti karena mikroorganisme dapat menghasilkan berbagai metabolit selama proses fermentasi. Selain tempe, makanan seperti kefir, yoghurt, dan kimchi juga kerap dibahas dalam penelitian mengenai hubungan makanan fermentasi, mikrobiota usus, dan kesehatan.
Namun, kandungan queuosine pada setiap makanan dapat berbeda. Penelitian tentang penyerapan mikronutrien ini juga tidak berarti bahwa mengonsumsi tempe secara langsung terbukti meningkatkan daya ingat atau mencegah kanker.
Menurut pesan yang disampaikan dalam unggahan @aplausmedia, tempe memiliki potensi yang layak terus diteliti karena proses fermentasinya menghasilkan berbagai senyawa penting.
“Meski kita nggak bisa bilang kalau tempe adalah obat atau jaminan biar kita panjang umur, tapi potensinya memang luar biasa untuk terus kita teliti dan kita manfaatkan,” tekan postingan tersebut.
Kendati demikian, tempe tetap menjadi pilihan makanan bergizi karena mengandung protein nabati dan sejumlah zat gizi lainnya. Mengonsumsinya sebagai bagian dari pola makan beragam dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Pada akhirnya, belum ada bukti ilmiah yang memastikan bahwa makan tempe saja dapat memperpanjang umur. Umur panjang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan seimbang, aktivitas fisik, kualitas tidur, kebiasaan sehari-hari, dan kondisi kesehatan.
Karena itu, tempe layak dipertahankan sebagai bagian dari menu sehat sehari-hari, bukan dianggap sebagai makanan ajaib yang menjamin umur panjang.
