Penulis : Las | Editor : Haris | Foto : Las
Surabaya,GPriority.co.id – Memasuki hall masjid, di samping kiri ada etalase yang menyediakan songkok atau peci berornamen masjid masjid Cheng Hoo. Peci tersebut dapat dibeli dengan harga 70 ribu rupiah. Selain itu tersedia baju koko, dan Buku Praktis Belajar Bahasa Tionghoa & Bahasa Indonesia Jilid I dan II.
Sebelum memasuki ruang masjid tersedia tempat wudlu dan toilet sebelah kiri dan tempat wudlu wanita sebelah kanan.
Begitu memasuki ruang utama masjid, dekat kotak amal tersedia buku tamu yang disediakan bagi para peziarah untuk membubuhkan nama dan titimangsa kunjungannya.
Ya, nama masjid ini diambil dari nama seorang Laksamana legendaris dari China yang bernama Cheng Ho atau Zheng He. Diresmikan tanggal 23 Mei 2003 oleh Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar saat itu, terletak di kawasan Jl. Gading, Surabaya.
Memang, desain masjid ini sangat khas dengan gaya arsitektur Tionghoa. Bangunannya megah dan warnanya yang merah mencolok tapi tetap terasa harmonis dengan lingkungannya.
Masjid ini menjadi salah satu tempat ibadah yang populer di Surabaya, rutin dipakai untuk shalat jumat oleh kaum muslimin, meskipun di lingkungan masjid sendiri mayoritas non muslim, kata Risza, pengurus.

Selain itu, di sekitar masjid terdapat sekolah di bawah naungan Yayasan, dan juga masjid ini juga sering dijadikan sebagai lokasi acara budaya, seperti perayaan Imlek dan festival-festival lainnya khas perayaan khas Tionghoa.
Bagaimana sejarah Cheng Hoo ini? Mengapa sampai namanya dijadikan nama masjid? (bersambung)
