Banggai, Gpriority.co.id – Malabot Tumpe yang menjadi bagian dari Festival Tumbe 2022 di Kabupaten Banggai digelar sejak 1 hingga 4 Desember 2022. Malabot Tumpe adalah upacara syukuran atas panen telur Maleo. Selain dipercaya agar terhindar dari bencana, pada momen ini juga tercermin ikatan persaudaraan warga di wilayah Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.
Festival Tumbe 2022 didahului dengan kegiatan Mombawa Tumpe (membawa telur Maleo) yang berlangsung sejak 27 November hingga 2 Desember 2022. Bupati Banggai Amirudin sempat membuka kegiatan Mombowa Tumpe di Kecamatan Batui pada Sabtu (27/11) lalu. Bersanding dengan kegiatan Mombowa Tumpe, biasanya digelar Malabot Tumpe. Tumbe dalam bahasa Saluan atau Tumbe dalam bahasa Banggai artinya sama yakni; pertama atau awal. Molabot dalam bahasa Saluan dan Malabot dalam bahasa Banggai juga punya arti sama, menjemput. Karenanya Molabot Tumpe/Malabot Tumbe dapat diartikan menjemput telur maleo yang pertama.
Telur Maleo dihasilkan Burung Maleo yang merupakan endemik Sulawesi Tengah dan banyak hidup di Kecamatan Batui. Sebagai awalan, perangkat adat biasanya mengumpulkan telur burung Maleo. Setelah terkumpul dan dibungkus dengan daun pohon palem atau komunong mereka akan membawanya ke rumah ketua adat diiringi dengan rangkaian upacara, doa dan dzikir. Di tepi sungai Batui sudah menunggu perahu dan pengantar telur yang terdiri dari 7 orang masing-masing 3 orang pemangku adat yang disebut sebagai ombuwa telur (pembawa telur) serta 4 orang pendayung. Dalam perjalanannya menuju sungai sendiri, mereka akan diiringi dengan genderang dan pengawalan pasukan adat. Dari sungai tujuan mereka adalah Keraton Kerajaan Banggai di Kabupaten Banggai Laut.
Malabot Tumpe merupakan tradisi yang diperkirakan sudah berlangsung sejak era kepemimpinan Raja Maulana Prins Mandapar (Mbumbu Doi Godong) sekitar tahun 1600. Hingga kini tradisi ini tetap dipegang teguh dan dijalankan masyarakat Banggai. Masyarakat meyakini pengantaran telur maleo wajib dilakukan untuk menghindari bencana. Bahkan terdapat kepercayaan yang berkembang pada masyarakat Batui, yaitu belum boleh memakan telur burung maleo sebelum telur pertama tersebut belum dipersembahkan ke Banggai atau belum melakukan upacara Malabot Tumpe.
Kegiatan Malabot Tumpe dilaksanakan setiap tahun sekali. Umumnya berdekatan dengan musim pertama bertelurnya burung maleo yang berlangsung sekitar bulan September. 5 Desa yaitu Dakanyo Ende, Binsilok Balatang, Tolando, Binsilok Katudunan dan Topundat biasanya menyerahkan masing-masing telur burung maleo yang ada di wilayahnya untuk kegiatan tersebut. Sayangnya jumlah telur yang diserahkan dari tahun ke tahun cenderung menurun seiring dengan keberadaan burung maleo yang berkurang. Ini tentu harus jadi perhatian serius semua pihak baik di pusat maupun di daerah. (PS/dbs)
