Jakarta, GPriority.co.id – Banyak orang merasakan bahwa saat puasa lebih mudah emosi atau tersulut amarah dibandingkan hari biasa. Kondisi ini sering membuat seseorang lebih mudah tersinggung, cepat marah, bahkan memicu pertengkaran dengan orang lain. Padahal, tujuan utama puasa dalam Islam justru melatih kesabaran dan pengendalian diri.
Fenomena ini dapat dijelaskan dari dua sisi, yaitu penjelasan ilmiah mengenai kondisi tubuh saat berpuasa serta ajaran Islam melalui hadis Nabi tentang cara menahan emosi selama menjalankan ibadah puasa.
1. Penurunan kadar gula darah saat puasa
Secara medis, salah satu alasan mengapa seseorang mudah marah saat puasa adalah karena kadar gula darah menurun. Saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan selama berjam-jam, energi yang biasanya digunakan oleh otak menjadi berkurang.
Berdasarkan penelitian dalam bidang Nutritional Science, kadar glukosa darah yang rendah dapat memengaruhi fungsi otak, terutama bagian yang mengontrol emosi dan pengambilan keputusan. Kondisi ini sering disebut sebagai irritability due to low blood sugar.
Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih sensitif terhadap perkataan orang lain, mudah tersinggung, hingga sulit mengendalikan emosi. Inilah sebabnya mengapa banyak orang merasa lebih mudah tersulut emosi ketika menjalankan puasa, terutama pada sore hari menjelang berbuka.
2. Dehidrasi dan kelelahan fisik
Selain gula darah yang menurun, dehidrasi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan cairan selama sekitar 12–14 jam. Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh terasa lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi.
Penelitian kesehatan menunjukkan bahwa dehidrasi ringan saja dapat memengaruhi suasana hati dan meningkatkan tingkat stres. Ketika tubuh lelah dan kekurangan cairan, kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi pun menurun.
Inilah alasan mengapa konflik kecil bisa terasa lebih besar saat seseorang sedang berpuasa.
3. Puasa = melatih pengendalian emosi
Meskipun secara biologis puasa dapat memicu iritabilitas, Islam justru mengajarkan agar seseorang menahan amarah dan tidak bertengkar saat berpuasa.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Hadis tersebut menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi dan menjaga sikap terhadap orang lain.
4. Hikmah puasa, membentuk karakter yang lebih baik
Dalam Islam, puasa memiliki tujuan spiritual yang sangat dalam, yaitu melatih kesabaran dan membentuk karakter yang lebih baik. Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi lebih bertakwa.
Dengan kata lain, ketika seseorang merasa mudah marah saat puasa, itu sebenarnya menjadi ujian untuk melatih pengendalian diri.
Beberapa cara yang dianjurkan untuk mengendalikan emosi saat puasa antara lain:
– Mengingat tujuan ibadah puasa.
– Menghindari perdebatan yang tidak perlu.
– Memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an.
– Beristirahat cukup agar tubuh tidak terlalu lelah.
Dengan cara ini, puasa tidak hanya menjadi ibadah fisik, tetapi juga latihan mental dan spiritual.
