Benarkah Puasa Bisa Menyembuhkan Berbagai Penyakit Kronis?

Puasa punya segudang manfaat untuk kesehatan/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Puasa punya segudang manfaat untuk kesehatan/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Berpuasa merupakan ibadah wajib bagi umat Islam di bulan Ramadan. Selain meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, dari sisi medis berpuasa juga memiliki segudang manfaat bagi tubuh.

Untuk mendapatkan informasi secara mendalam terkait hal ini, GPriority berkesempatan mewawancarai dr. Harbanu Hermawan Mariono, Sp.PD, KKV, yang saat ini menjalankan praktek di Radjak Hospital Salemba, Jakarta Pusat, pada Selasa (9/2) lalu. Berikut ini pembahasannya.

Pada saat puasa Ramadan, apakah secara medis berpengaruh kepada tubuh?

Menurut dr. Harbanu, jika berbicara secara umum, berpuasa memiliki pengaruh baik untuk tubuh seperti memperbaiki metabolisme, terutama terkait gula darah.

“Dengan kita berpuasa, kita tidak mengonsumsi makanan sama sekali, yang menyebabkan tubuh itu akan mengambil cadangan makanan dari tubuh sendiri. Jadi misalnya dia mengambil dari cadangan lemak, dari cadangan yang lain, sehingga tubuhnya itu bisa tetap terjaga,” jelas dr. Harbanu.

Terjadinya penurunan masa lemak otomatis membawa perubahan pada struktur tubuh. Tak heran jika orang yang rutin berpuasa akan mengalami penurunan berat badan, dengan catatan tetap menjaga jumlah kalori yang dikonsumsi ketika sahur dan berbuka.

“Gulanya bisa terjadi perbaikan, kemudian hipertensi bisa terjadi perbaikan, begitu pun asam urat. Walaupun memang ada kondisi-kondisi yang tidak boleh puasa, tapi kebanyakan efek puasa itu bagus. Termasuk orang dengan penyakit lambung,” sebut dr. Harbanu.

Apakah ada penyakit tertentu yang tidak diperbolehkan untuk puasa?

Dalam banyak kasus, pasien penyakit diabetes dengan gula yang belum terkendali, ucap dr. Harbanu, tidak diperbolehkan untuk berpuasa, karena akan memicu pembentukan keton.

“Benda keton pada orang diabetes itu bisa mengganggu hingga berakibat ketoasidosis. Kalau gula darahnya tidak terkontrol, ketoasidosis itu bisa membahayakan pasien. Jadi kalau pasien diabetes mau melakukan puasa Ramadan, sebaiknya berkonsultasi dulu. Termasuk juga puasa-puasa yang lebih dari 12 jam seperti intermittent fasting. Metaboliknya harus bagus dulu,” tutur dr. Harbanu.

Lalu, bagaimana dengan kebiasaan orang Indonesia yang suka makan dan minum yang manis-manis saat berbuka puasa?

Apabila seseorang tidak mengidap diabetes, sebenarnya mengonsumsi makanan dan minuman manis saat berbuka tidak menjadi masalah. Namun, hal ini dapat memicu kenaikan berat badan. Terlebih jika anda berniat menurunkan berat badan saat bulan Ramadan.

“Dengan makanan yang manis, minuman yang manis, berbuka dengan yang manis, itu kan kalorinya tinggi. Akhirnya jumlah yang dimakan dalam satu hari kalorinya lebih dari apa yang dia makan sehari-hari. Itu yang menyebabkan berat badan tidak turun meski sudah berpuasa. Karena kalau kita makan dalam waktu singkat namun dengan jumlah kalori yang berlebih, kita akan memaksa kerja tubuh mengendalikan gula. Lama-lama bisa mengidap diabetes,” ungkap dr. Harbanu.

Selain penurunan berat badan, penyakit apa lagi yang bisa sembuh dengan berpuasa?

Ketika berat badan menurun, risiko hipertensi, risiko kardiometabolik (jantung koroner) juga akan berkurang. Selain itu, nyeri pinggang, nyeri lutut, nyeri sendi, yang biasa menjadi keluhan pengidap obesitas, juga akan membaik.

Kapan waktu terbaik untuk berolahraga saat sedang puasa?

“Kalau di beberapa literatur mengatakan, jika ingin berolahraga di bulan Ramadan, disarankan pada saat ngabuburit, atau di waktu menjelang berbuka. Olahraganya pun tidak disarankan yang terlalu berat. Misalnya jalan santai. Tapi kalau angkat beban atau nge-gym juga diperbolehkan. Yang paling bagus memang menjelang buka,” tutur dr. Harbanu.

Apa hal yang paling penting diperhatikan ketika sedang menjalankan ibadah puasa?

Dr. Harbanu menekankan, ketika berpuasa penting untuk memperhatikan kebutuhan makanan, kebutuhan kalori, serta kebutuhan cairan yang harus dipenuhi. Namun untuk pengidap penyakit jantung, tidak diperboleh untuk minum terlalu banyak.

“Untuk minum jangan hanya saat sahur aja. Jadi sudah bisa dimulai saat bangun tidur. Jadi asupan airnya harus banyak biar tidak lemes agar kebutuhan hidrasi itu cukup,” imbuhnya.

Di samping itu, penting juga untuk memperhatikan pola istirahat, mengingat di bulan Ramadan identik dengan waktu tidur yang berkurang.

“Jadi memulai tidurnya mungkin bisa dari sebelum jam 10 malam. Tidur 5-6 jam sudah cukup. Itu normalnya ya. Walaupun literatur bilang sampai 9 jam,” pungkas dr. Harbanu.