Mengenal Pernikahan Sumba yang Maharnya Bikin Geleng Kepala

Penulis : Haris | Editor : Lina F | Foto : dok. Pribadi

Sumba,GPriority.co.id-Bukan hanya pesona alamnya, Sumba juga dikenal memiliki tradisi pernikahan yang membuatnya berbeda dari daerah lain di indonesia.

Pernikahan adat Sumba di Nusa Tenggara Timur melewati proses yang panjang. Melibatkan seluruh bagian keluarga dan banyak hal yang perlu dipersiapkan. Salah satunya adalah Belis.

Belis adalah sebutan untuk mahar dalam pernikahan adat Sumba. Mulanya diberikan oleh calon pengantin laki-laki untuk pihak keluarga perempuan. Mahar atau Belis yang disiapkan berupa hewan ternak seperti sapi, kuda atau kerbau. Belis yang disiapkan laki-laki biasanya diasosiasikan dengan benda-benda yang bersifat maskulin seperti, kerbau, kuda, parang tombak dan perhiasan. Calon pengantin akan diberikan Mamuli yaitu perhiasan anting sebagai simbol kemampuan reproduksi wanita. Setelahnya pihak perempuan akan membalas pemberian belis dari pihak laki-laki dengan hantaran yang lekat dengan keseharian perempuan misalnya babi dan kain tenun.

Jumlah belis ditentukan oleh pihak perempuan, namun nantinya bisa berdasarkan kesepakatan bersama. Saat acara pertemuan dua keluarga, akan terjadi tawar menawar belis antara kedua belah pihak. Ketika proses ini berlangsung calon pengantin perempuan tidak boleh menampakkan diri.

Jumlah belis yang laki-laki berikan tergantung posisi keluarga perempuan di masyarakat. Ada Maramba (bangsawan), rakyat biasa dan hamba atau budak. Perempuan dari kasta Maramba umumnya akan meminta belis yang tinggi sebagai tanda penghormatan bagi keluarga. Bagi yang termasuk dalam kalangan rakyat biasa juga bisa meminta Belis tinggi apabila calon pengantin perempuannya berpendidikan tinggi. Sedangkan Belis untuk kasta hamba akan dibayarkan oleh tuannya

Kurang lebih jumlah Belis yang diberikan untuk kalangan bangsawan sekitar 30-an ekor hewan ternak, sedangkan rakyat biasa berkisar 5-15 ekor hewan ternak. Kenapa patokannya hewan ternak? Karena termasuk harta kekayaan yang jadi patokan orang-orang zaman dulu. Nah kalau sekarang bisa menyerahkan dalam bentuk uang namun tetap ukurannya dari hewan ternak. Jadi misalnya katakanlah hasil kesepakatan keluarga, pihak laki-laki harus memberikan belis sebanyak 20 ekor sapi. Bisa disiapkan 2 ekor sapi, sisanya bisa diuangkan dengan harga jual hewan saat ini.

Lalu bagaimana proses pernikahannya?dilansir dari trip sumba proses pernikahan adat Sumba melalui beberapa tahapan. Pertama adalah tahap perkenalan, di sini dilakukan proses perkenalan antara kedua keluarga untuk mengetahui identitas, status sosial dan turunan. Juga untuk memastikan dari suku mana masing-masing calon pengantin berasal.

Lanjut ke tahap perkenalan adat (dengi winni pare, winni watara). Dalam tahap ini calon mempelai pria bersama keluarga datang ke rumah calon pengantin perempuan, untuk membicarakan pinangan dengan bahasa adat. Keluarga perempuan menyajikan sirih pinang sambil menanyakan maksud kedatangan. Sedangkan keluarga pria menyerahkan barang bawaan dan meminta bibit padi dan bibit jagung sebagai tanda telah diterimannya pinangan.

Setelah itu ada tahap ikat adat (Kattege). Jika pinangan sudah diterima masing-masing keluarga mempersiapkan Belis yang sudah disepakati. Saat tiba di rumah wanita, calon pengantin laki-laki membawa tombak dan lolo oma yang akan diikat sebagai tanda kedua keluarga telah bersatu. Kemudian menyerahkan hewan ternak dan Mamuli.

Terakhir acara intinya ada tahap ikat pindah, yang menyimbolkan peresmian pernikahan dan tanda secara adat bahwa perempuan telah berpindah atau ikut ke suku pengantin laki-laki. Diakhiri dengan acara makan bersama. Setelahnya pengantin perempuan dibawa ke rumah suaminya dengan iringan alat musik dan para penari.