Meningkat, Utang Luar Negeri Indonesia Capai USD 427,5 Miliar Per Januari 2025

Jakarta, GPriority.co.idBank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia pada Januari 2025 tetap terkendali. Posisi utang luar negeri Indonesia pada Januari 2025 sebesar 427,5 miliar dolar AS atau tumbuh 5,1 persen(yoy), meningkat dibandingkan dengan posisi utang luar negeri Desember 2024 yang tumbuh 4,2 persen (yoy). 

Berdasarkan pengumuman resmi Bank Indonesia dikutip Selasa (18/3) perkembangan utang luar negeri tersebut dipengaruhi oleh utang luar negeri sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral. Utang luar negeri pemerintah tetap terkendali. 

Posisi utang luar negeri pemerintah pada Januari 2025 sebesar 204,8 miliar dolar AS, atau tumbuh sebesar 5,3 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan 3,3 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. 

“Perkembangan utang luar negeri tersebut dipengaruhi oleh peningkatan aliran masuk modal asing pada surat berharga negara internasional, seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Sebagai salah satu instrumen pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara yang terus dikelola secara prudent dan efisien, alokasi pemanfaatan utang luar negeri terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah,” tulis Bank Indonesia.

Pengelolaan utang luar negeri pemerintah yang terus dijaga dalam batas aman dan terkendali ditujukan untuk mendukung momentum pertumbuhan perekonomian, antara lain pada Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,6 persen dari total utang luar negeri pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (17,8 persen); Jasa Pendidikan (16,6 persen); Konstruksi (12,1 persen); serta Jasa Keuangan dan Asuransi (8,2 persen). Posisi utang luar negeri pemerintah tetap terkendali mengingat hampir seluruh utang luar negeri memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total utang luar negeri pemerintah.

Utang luar negeri swasta menurun. Pada Januari 2025, posisi utang luar negeri swasta tercatat sebesar 194,4 miliar dolar AS, atau mengalami kontraksi pertumbuhan yang sama dengan bulan sebelumnya yaitu sebesar 1,7 persen (yoy)). Perkembangan utang luar negeri tersebut terutama didorong oleh utang luar negeri lembaga keuangan (financial corporations) yang mengalami kontraksi sebesar 2,3 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan satu persen (yoy) pada bulan sebelumnya. 

Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 79,4 persen dari total utang luar negeri swasta. Utang luar negeri swasta juga tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6 persen terhadap total utang luar negeri swasta. 

Struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap produk domestik bruto yang turun menjadi 30,3 persen pada Januari 2025, dari 30,5 persen pada Desember 2024, serta didominasi oleh utang luar negeri jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,7 persen dari total utang luar negeri. 

Dalam rangka menjaga agar struktur utang luar negeri tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan utang luar negeri. Adapun peran utang luar negeri juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. 

“Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” tulis Bank Indonesia.

Foto: Dok. Bank Indonesia