Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah didesak agar menetapkan status bencana nasional usai banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat.
Menurut Yayasan Lembaha Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), tujuan penetapan tersebut dilihat dari banyaknya korban jiwa maupun luka yang terdampak.
“Mendesak pemerintah untuk menetapkan status bencana nasional. Ini sudah seyogyanya ditetapkan sebagai status bencana nasional karena terindikasi melihat dari indikator jumlah korban Sumatra Utara saja ratusan,” kata Direktur LBH Medan, Muhammad Irvan dikutip, Minggu (30/11).
Tak hanya itu, akibat bencana ini menimbulkan kerusakan sarana dan prasarana dari banjir dan longsor.
Adapun YLBHI juga menyoroti kesulitan mendapatkan akses kebutuhan pokok memaksa warga di sejumlah daerah menjarah supermarket.
Irvan menyebut, keputusan ini menyangkut asas kemanusaian dan keadilan yang musti dipenuhi oleh masyarakat di Sumatera.
“Presiden menetapkan ini bencana nasional, maka akan pengerahan baik dari kementerian baik dari aparatur yang di pusat ataupun stakeholder lainnya, BNPB, dan seterusnya turun ke daerah-daerah tersebut, ke provinsi tersebut untuk mempercepat memberikan perlindungan kepada masyarakat,” ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Sabtu (29/11) sore, total korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 303 orang.
Sumatera Utara tercatat sebagai wilayah dengan korban terbanyak. Kepala BNPB Suharyanto mengatakan jumlah korban meningkat drastis dibanding hari sebelumnya.
Jumlah korban jiwa naik dari 116 orang pada Jumat (28/11) menjadi 166 orang pada Sabtu, sementara 143 orang masih dinyatakan hilang.
Di Aceh, BNPB mencatat 47 korban meninggal, 51 orang hilang, dan delapan luka-luka.
“Aceh kondisinya per sekarang ada penambahan korban. Untuk pertama korban jiwa ada 47, 51 masih hilang, dan delapan luka-luka. Data ini masih akan berkembang terus, karena ada beberapa pencarian pertolongan dari satgas gabungan ini menemukan korban,” ujar Kepala BNPB Suharyanto.
Sumatera Barat juga mengalami peningkatan jumlah korban, menyusul temuan terbaru di Kabupaten Agam. Total 90 orang meninggal, 85 hilang, dan 10 luka-luka.
“Untuk jumlah korban, untuk Padang [Sumbar] ini meningkat. Jadi sekarang nomor dua setelah Sumut, ini korban jiwa ada 90 yang meninggal dunia, 85 hilang, 10 luka-luka,” tutur Suharyanto.
Secara keseluruhan, tiga provinsi tersebut mencatat 303 korban meninggal: 166 di Sumut, 90 di Sumbar, dan 47 di Aceh. Pemerintah daerah bersama tim gabungan masih terus melakukan pencarian dan penanganan darurat di lokasi terdampak.
