Jakarta, GPriority.co.id – Penelitian baru menemukan bahwa kadar zat besi dalam otak bisa menjadi tanda peringatan penyakit alzheimer di masa mendatang.
Para peneliti di Universitas Johns Hopkins menemukan bahwa teknik MRI khusus yang disebut pemetaan kerentanan kuantitatif (QSM), dapat mengukur kadar zat besi dalam otak.
“QSM adalah teknik MRI canggih yang dikembangkan selama dekade terakhir untuk mengukur kerentanan magnetik jaringan dengan presisi yang baik,” jelas Xu Li, profesor madya radiologi di universitas tersebut.
Lebih lanjut Li mengatakan jika QSM dapat mendeteksi perbedaan kecil kadar zat besi di berbagai wilayah otak, sehingga membantu mengukur zat besi pada pasien, yang tidak bisa dilakukan dengan MRI konvensional.
Kabar baiknya, teknik baru MRI otak ini dapat membantu memprediksi kemungkinan gangguan kognitif ringan (MCI) dan penurunan kognitif, bahkan jika orang tersebut tidak menunjukkan gejala. Selain itu, biayanya juga disebut lebih terjangkau.
Pada penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Radiology, para peneliti menguji teknik MRI otak tersebut pada 158 responden yang tidak mengalami gangguan kognitif dari proyek penelitian sebelumnya.
Setelah melakukan penelitian selama 7 tahun, tim peneliti menyimpulkan bahwa kadar zat besi yang lebih tinggi di dua bagian utama otak, berkaitan dengan risiko lebih tinggi terjadinya gangguan kognitif ringan, yang menjadi penyebab perkembangan demensia dan alzheimer.
“Kesimpulan dari penelitian kami, kadar zat besi otak yang lebih tinggi terutama di beberapa area otak penting yang berkaitan dengan memori dan pembelajaran, dikaitkan dengan risiko dua hingga empat kali lebih tinggi terkena MCI dan penurunan kognitif yang lebih cepat,” ujar Li kepada Fox News Digital.
Li menambahkan, “Perubahan zat besi di otak tersebut dapat diukur bertahun-tahun sebelum hilangnya ingatan, saat kemampuan kognitif peserta masih normal.”
Dengan menggunakan metode QSM, ditemukan kadar zat besi di otak yang lebih tinggi di beberapa area. Para peneliti berharap untuk membuat teknologi QSM lebih terstandarisasi, lebih cepat, dan lebih mudah diakses dalam praktik klinis.
“Saya rasa kita harus optimis. Kita bisa menggunakan alat semacam ini untuk membantu mengidentifikasi pasien yang berisiko lebih tinggi terkena penyakit alzheimer,” tutupnya.
