Perlindungan Ikan Hiu di Segitiga Terumbu Karang Raja Ampat

Keindahan ikan hiu dari bawah laut selalu memancarkan pesona bagi siapa pun yang melihatnya. Apalagi bagi para penyelam yang sudah tidak asing lagi dengan keberadaannya. Bagi sebagian orang hiu mungkin dianggap sebagai makhluk hidup yang ganas dan menakutkan, namun perlu kita ketahui bahwa ikan hiu merupakan hewan yang harus dilindungi.

Di kepulauan Raja Ampat, Papua Barat terkenal akan keelokan alam lautnya, wilayah perairan menjadi daya tarik utama, mengingat perairan Raja Ampat adalah salah satu dari 10 perairan terbaik di seluruh dunia. Selain itu Raja Ampat juga merupakan bagian dari wilayah Segitiga Terumbu Karang yang diakui sebagai pusat keanekaragaman flora dan fauna laut dunia.

Seiring waktu berlalu berbagai jenis ikan dan biota laut yang tersebar diperairan laut mulai resah, terutama ikan hiu yang habitatnya terancam. Di kepulauan Raja Ampat sendiri sudah memberlakukan perlindungan terhadap ikan hiu sesuai Peraturan Daerah (Perda) No. 9 Tahun 2012, tertulis dalam Pasal 20, barangsiapa yang menangkap ikan hiu, pari manta dan jenis ikan yang dilindungi dapat diancam pidana kurungan paling lama 6 bulan atau denda sebanyak Rp 50 juta.

Meskipun peraturan daerah tersebut sudah diterapkan, menurut Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) kabupaten Raja Ampat mengakui bahwa perburuan ikan hiu di daerah tersebut cukup marak dibeberapa tahun terakhir. Kawasan marak perburuan liar ikan hiu terbesar berada di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) sesuai undang-undang nomor 23 tahun 2014 yang menjadi kewenangan dan pengawasan pemerintah provinsi Papua Barat.

Ada beberapa daerah yang menjadi tempat perburuan liar ikan hiu, yakni perairan Kampung Samate, perairan Kampung Kaliam hingga perairan kepulauan Sembilan kabupaten Raja Ampat. Oleh sebab itu, DKP Raja Ampat membangun komunikasi dengan DKP Papua Barat untuk mengatasi maraknya aksi penangkapan ikan dengan melakukan patroli di seluruh wilayah Raja Ampat.

Banyak faktor yang membuat habitat ikan hiu di bawah laut terancam. Selain ribuan ekor ikan hiu yang dipancing dan terjaring jala oleh nelayan, ikan hiu juga ternyata rendah dalam berkembangbiak. Butuh waktu puluhan tahun untuk menciptakan habibat baru spesies ikan hiu. Maka dari itu perlindungan khusus dari pemerintah daerah setempat sangat dibutuhkan makhuk laut ini.

Salah satu penyebab ikan hiu banyak diburu orang-orang yaitu karena ikan hiu memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dan merupakan salah satu produk perikanan yang menguntungkan. Semua bagian dari ikan hiu bisa dimanfaatkan dan diperdagangkan untuk pasar internasional mulai dari sirip, daging, tulang rawan, kulit, dan juga dalam bentuk hidup.

Mengutip hasil penelitian _Australian Institute of Marine Science_ pada tahun 2010 di Palau, seekor hiu karang diperkirakan memiliki nilai ekonomis tahunan sebesar Rp 1,6 miliar dan nilai seumur hidup sebesar Rp 17,5 miliar untuk industri pariwisata. Di tahun 2017 hiu juga memiliki nilai ekspor tinggi mencapai Rp 1,4 trillun.

Bagian dari ikan hiu yang paling banyak digemari masyarakat adalah siripnya, yang memiliki tekstur kenyal, berurat dan berserabut. Umumnya sirip ikan hiu dimasak sup dengan harga seporsi mencapai Rp. 500 ribu. Selain rasanya yang lezat, menurut mitos yang beredar sirip ikan hiu dapat menambah vitalitas kaum pria. Untuk daging, satu kilo ikan hiu dijual dengan harga Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000.

Saat ini pasukan sirip ikan hiu yang dijual nelayan sudah jarang. Hal tersebut karena hiu sudah semakin langka dan sulit ditemukan. Populasinya semakin menyusut dan dikhawatirkan akan punah. Maka dari itu banyak daerah perarairan yang memperketat wilayahnya dengan melakukan pengawasan dan larangan penangkapan ikan hiu seperti Raja Ampat.

Disamping memberlakukan Perda terhadap larangan penangkapan hiu, Pemda di Kabupaten Raja Ampat juga telah menetapkan kawasan dengan perairan seluas 46.000 km2 tersebut menjadi kawasan perlindungan hiu dan pari manta pertama di Indonesia. Kajian ekologis yang dilakukan TNC dan _Conservation International_ (CI) mengatakan bahwa Raja Ampat merupakan rumah bagi 75% jenis terumbu karang di dunia dengan 553 jenis terumbu karang dan 1.437 jenis ikan karang.

Selama pandemi Covid-19, pariwisata Raja Ampat ditutup untuk mencegah penyebaran virus. Penutupan tersebut ternyata membawa dampak positif bagi makhluk hidup disana. Berkurangnya kegiatan penyelaman dan lalu lintas kapal menimbulkan perubahan perilaku fauna di Raja Ampat.

Ikan hiu dan pari manta yang biasanya berada di bawah laut, kini banyak bermunculan di laut dangkal. Terumbu karang juga diberi istirahat dan dapat tumbuh kembali tanpa adanya gangguan dari penyelam atau snorkellers yang sering tabrakan dengan terumbu karang.(Dwi)

Related posts