Tren Pernikahan Baru di Jepang: ‘Friendship Marriage’, Hubungan atas Dasar Kepentingan

Jakarta, GPriority.co.id – Saat ini di Jepang tersebar tren baru terkait bentuk hubungan. Tren ini terkenal di kalangan anak muda, yang disebut dengan ‘Friendship Marriage’ atau pernikahan persahabatan.

Tren ini membuat anak muda di Jepang menjalani hubungan yang tidak perlu melibatkan perasaan mutual love ataupun hubungan fisik, untuk tetap bersama dengan orang yang mereka pilih.

Dilansir dari data agensi Colorus (yang membahas mengenai fenomena ini), sekitar 500 orang di Jepang sudah melakukan pernikahan ini, dan membangun rumah tangga bersama.

‘Friendship Marriage’ merupakan hubungan hidup bersama yang berdasarkan pada kesamaan kepentingan dan nilai. Bisa dibilang, pernikahan ini hanya seperti mencari teman sekamar yang memiliki nilai yang sama.

Sebelum terlibat dalam hubungan ‘Friendship Marriage’, calon pasangan biasanya menghabiskan waktu beberapa jam hingga beberapa hari, untuk membuat kesepakatan soal kehidupan mereka ke depannya. Seperti terkait keuangan, uang makan, hingga aturan soal cuci baju.

Dilansir dari News18, yang membedakan pernikahan ‘Friendship Marriage’ dengan pernikahan pada umumnya yaitu pasangan tersebut menikah secara legal, tetapi mereka memilih untuk membatasi diri dari kegiatan sexual intercouse ataupun hubungan yang romantis.

Bahkan mereka menggunakan cara artifisial untuk memiliki anak. Tidak hanya sampai disitu, hubungan ‘Friendship Marriage’ juga mengizinkan pasangannya untuk melakukan poligami, atau memiliki pasangan lain sesuai kesepakatan bersama.

Menurut Colorus, orang yang tertarik dengan skema hubungan ini rata-rata berumur 32 tahun dan punya penghasilan lebih dari standar nasional. Sebanyak 85 persen orang yang menjalankan ‘Friendship Marriage’ juga sudah mempunyai gelar sarjana.

Lebih lanjut, tren ini juga menarik individu aseksual (yang tidak merasakan gairah seksual ataupun jatuh cinta), tetapi ingin punya koneksi, begitupun juga dengan mereka yang homoseksual, seperti dikutip dari South China Morning Post.

Foto : Ilustrasi / Shutterstock