Jakarta, GPriority.co.id – Kebiasaan merupakan perilaku berulang yang dianggap wajar dan membuat seseorang tak memikirkan efek jangka panjangnya. Begitupun dengan kebiasaan sepele dalam sehari-hari.
Padahal, terdapat kebiasaan sepele yang dapat merusak otak, terutama bagian Prefontal Cortex (PFC), yang berperan penting dalam mengambil keputusan serta pemecahan masalah.
“Ketika PFC sehat dan kuat, ia dapat membantu mengarahkan seseorang untuk melakukan kebiasaan sehat,” ungkap Dr. Daniel Amen, seorang psikiater bersertifikat ganda dan peneliti pencitraan otak di California, sebagaimana dilansir dari The Post.
Daniel menambahkan, “Ketika bagian PFC melemah, maka impuls anda dapat mengambil alih hingga akhirnya menyebabkan banyak kebiasaan buruk. Seseorang juga akan sulit membedakan kebiasaan baik dan buruk.”
Jika anda ingin menghentikan kebiasaan buruk, Daniel menyarankan untuk mengubah lingkungan anda guna menghindari pemicunya. Selain itu, penting juga mecari alternatif yang sehat dan melatih belas kasih terhadap diri sendiri saat anda melakukannya.
Lebih lanjut, Daniel menyebut ada 7 kebiasaan sepele yang dapat merusak otak hingga memperpendek umur. Berikut ini pembahasannya.
1. Selalu mengatakan ‘iya’ dalam hal apapun
Mengatakan ‘iya’ pada segala hal yang mengarah pada multitasking, terbukti dapat meningkatkan stres dan mengurangi fokus seseorang.
2. Terlalu banyak menangani pekerjaan
Senada dengan poin pertama, melakukan banyak tugas sekaligus dapat memberi pengaruh negatif bukan hanya terhadap fokus, tetapi juga pada daya ingat dan pengambilan keputusan. Daniel menambahkan, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan stres dan kecemasan.
3. Sering mengonsumsi makanan yang tidak sehat
Penelitian menunjukkan bahwa makanan ultra-olahan (junkfood) seperti keripik, kue, es krim, dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas dan diabetes tipe 2. Selain itu juga menjadi pemicu kanker, depresi, kecemasan, hingga kematian dini.
4. Menjalankan gaya hidup pemalas
Daniel mengungkapkan, gaya hidup pemalas dapat menurunkan aliran darah ke otak hingga memicu depresi dan ADHD, bahkan penyakit Alzheimer.
5. Menggunakan produk skincare atau produk perawatan dengan bahan kimia berbahaya
Waspadalah terhadap produk skincare yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti paraben, ftalat, serta zat pelepas formaldehida. Zat-zat tersebut dapat mengganggu hormon tubuh dan berpotensi menyebabkan depresi, kabut otak, hingga gejala ADHD.
6. Terjebak dalam rutinitas yang sama
“Ketika anda berhenti belajar, otak anda mulai mati. Teruslah belajar hal-hal baru setiap harinya agar menjaga otak dan ingatan anda tetap sehat,” ungkap Daniel.
7. Melakukan aktivitas yang meningkatkan risiko cedera kepala tanpa menggunakan pengaman
Menurut penelitian di tahun 2025, sekitar 3,3 persen orang dewasa dan 2,2 persen anak-anak di Amerika Serikat, dilaporkan mengalami cedera otak traumatis dalam setahun terakhir.
Daniel pun menyarankan untuk selalu mengenakan helm saat berkendara, berpegangan pada pegangan tangga saat naik ataupun turun tangga, dan tidak mengirim pesan teks saat mengemudi.
“Bahkan benturan ringan di kepala dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, kabut otak, mudah tersinggung, hingga masalah ingatan,” jelas Daniel.
