7 Mitos Zina yang Masih Sering Disalahpahami Anak Muda

Ada beberapa mitos zina dalam Islam yang masih sering disalahpahami anak muda, salah satunya menggunakan pengaman saat berhubungan badan/Foto : Ilustrasi Dok. iStock Ada beberapa mitos zina dalam Islam yang masih sering disalahpahami anak muda, salah satunya menggunakan pengaman saat berhubungan badan/Foto : Ilustrasi Dok. iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Pemahaman tentang zina dalam Islam masih kerap disederhanakan oleh sebagian remaja dan anak muda.

Sejumlah anggapan seperti “kalau cuma pegangan tangan belum zina” atau “kalau sama-sama cinta berarti tidak masalah” menjadi contoh pemikiran yang perlu diluruskan.

Dilansir dari unggahan Instagram @generus.nikah354, terdapat sejumlah mitos tentang zina yang perlu dipahami dengan sudut pandang yang tepat.

Dalam Islam, Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina.” (QS. Al-Isra: 32).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menjelaskan bahwa konsep zina dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai hubungan seksual di luar pernikahan. MUI mengutip hadis yang menjelaskan adanya zina mata, telinga, lisan, tangan, kaki hingga hati.

Berikut tujuh mitos yang sering muncul.

1. Zina hanya terjadi jika sudah berhubungan seksual

Anggapan ini tidak sepenuhnya sesuai dengan pemahaman Islam. MUI menjelaskan adanya bentuk zina yang berkaitan dengan pandangan, ucapan, sentuhan, langkah, serta keinginan hati yang dapat menjadi jalan menuju perbuatan zina.

“Ada zina-zina lain yang mengarah pada makna tersebut (zina), seperti zina ‘ain (mata), zina qolbi (hati), dengan imajinasi. Zina ucapan juga demikian ketika ada ucapan yang mesum, zina tangan, zina kaki jika kaki mengarah dan mengajak pada tempat lokalisasi,” kata Anggota Komisi Fatwa MUI, KH Zia Ul Haramein.

2. Kalau sama-sama cinta, berarti tidak masalah

Cinta merupakan perasaan manusiawi, tetapi dalam perspektif Islam perasaan tersebut tidak otomatis membuat semua bentuk ekspresi menjadi halal. Hubungan sebelum akad tetap memiliki batas yang perlu dijaga.

3. Zina hanya sekali tidak akan terjadi lagi

Pelanggaran batas dapat membuat seseorang semakin mudah mengabaikan batas berikutnya. Karena itu, pesan yang disampaikan adalah tidak menguji diri dengan sengaja mendekati situasi yang dapat membawa pada maksiat.

4. Menggunakan pengaman berarti sudah aman

Dari sisi kesehatan, kondom memang dapat menurunkan risiko kehamilan tidak direncanakan dan sebagian besar infeksi menular seksual jika digunakan secara benar dan konsisten. Namun, efektivitas medis tersebut berbeda dengan persoalan hukum agama. WHO menegaskan kondom efektif mencegah sebagian besar IMS, tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap seluruh jenis infeksi.

5. Zina tidak merugikan siapa pun jika sama-sama mau

Dampaknya tidak selalu terlihat langsung. Risiko kesehatan, kehamilan tidak direncanakan, tekanan emosional, penyesalan, serta konsekuensi sosial dapat muncul kemudian. Dalam perspektif Islam, zina juga merupakan perbuatan yang dilarang.

6. Pernah zina berarti percuma untuk berubah

Anggapan tersebut justru dapat membuat seseorang putus asa. Dalam ajaran Islam, pintu taubat tetap terbuka. MUI juga menganjurkan taubat nasuha bagi orang yang pernah melakukan dosa.

7. Menjaga diri berarti tidak boleh jatuh cinta

Jatuh cinta merupakan perasaan manusiawi. Yang perlu dijaga adalah tindakan setelah munculnya perasaan tersebut. Menyukai, mengagumi, dan memiliki keinginan menikah tidak harus diwujudkan melalui tindakan yang melanggar batas agama.

Pesan pentingnya, rasa suka bukan sesuatu yang harus dibenci. Justru perasaan tersebut dapat diarahkan kepada niat yang baik: “Kalau memang dia baik untukku, semoga Allah mempertemukan kami dalam keadaan yang baik dan melalui jalan yang baik,” bukan menjadikan rasa cinta sebagai alasan bahwa semua tindakan diperbolehkan.