Seminar Bulan K3, Kemnaker: Bahaya Kimia di Tempat Kerja Tak Boleh Diabaikan

Balai Besar K3 gelar seminar Bulan K3 Nasional bertajuk Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif, Selasa (27/1)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Balai Besar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggelar seminar Bulan K3 Nasional bertajuk Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif, dengan subtema “Chemicals Hazard at Workplace: Bahaya Senyap yang Perlu Dikendalikan.”

Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan K3 Kemnaker, Agus Triyono, mengatakan bahaya kimia senyap merupakan salah satu faktor risiko kerja yang kerap luput dari perhatian. Pasalnya, paparan bahan kimia sering kali tidak terlihat, tidak tercium, tidak terasa, dan tidak langsung dirasakan dampaknya.

“Namun, paparan bahan kimia ditempat kerja dapat menimbulkan penyakit ginjal. Dan gangguan kesehatan jangka panjang hingga keselamatan kerja yang serius apabila terulangkan,” kata Agus dalam sambutannya, di Balai Besar K3, Jakarta Pusat, Selasa (27/1).

Ia menegaskan, pengelolaan bahaya kimia tidak cukup hanya mengandalkan kepatuhan administratif. Diperlukan pemahaman menyeluruh terhadap residu bahan kimia, pengukuran yang akurat, serta pengendalian kegiatan secara sistematis dan berbasis data.

Dalam konteks tersebut, peran petugas dan lembaga K3 menjadi sangat penting. Tidak hanya dalam pelayanan, pembinaan, dan sosialisasi K3 di dunia kerja, tetapi juga dalam pelaksanaan fungsi pengujian K3 di lingkungan kerja.

Menurut Agus, kegiatan pengujian, pemantauan, dan evaluasi faktor bahaya kimia merupakan bagian krusial dari pendekatan promotif dan preventif untuk meningkatkan perlindungan pekerja sejak dini. Hasil pengujian K3 yang andal dan berstandar menjadi dasar bagi pengambilan keputusan manajemen, perbaikan proses kerja, serta penyusunan langkah pengendalian yang tepat.

“Oleh karena itu, Balai K3 diharapkan menjadi benchmark dan rujukan layanan pengujian K3 yang profesional, kredibel, dan berintegritas,” ucapnya.

Dia menambahkan, penguatan peran Balai K3 tidak hanya bergantung pada ketersediaan layanan teknis, tetapi juga pada kesamaan pemahaman, peningkatan kapasitas, serta komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan.

“Dalam konteks inilah, seminar ini diselenggarakan sebagai ruang pembelajaran dan dialog untuk memperkuat pendekatan pengelolaan bahaya kimia yang berbasis data, sistematis, dan kolaboratif. Mulai diskusi yang konstruktif, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa bahaya kimia merupakan resiko nyata yang harus dikendalikan secara konsisten demi melindungi pekerja dan mendukung produktivitas nasional,” pungkas Agus.