Mengapa Terlalu Banyak Makan Ikan Asin Dapat Memicu Hipertensi?

Ilustrasi ikan asin/Foto : Dok. Getty Images Ilustrasi ikan asin/Foto : Dok. Getty Images

Jakarta, GPriority.co.id – Ikan asin merupakan makanan favorit banyak orang Indonesia. Rasanya yang gurih, tahan lama, serta cocok dipadukan dengan berbagai hidangan, menjadikannya salah satu menu wajib pada masakan rumahan.

Namun di balik kelezatannya, mengonsumsi ikan asin dalam jumlah berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Perlu diketahui, hipertensi sendiri adalah kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal dalam jangka waktu lama. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat memicu penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.

Dilansir dari beberapa sumber kredibel, berikut penjelasan ilmiah mengapa terlalu banyak makan ikan asin dapat menyebabkan hipertensi.

1. Mengandung garam (natrium) yang sangat tinggi

Penyebab utama ikan asin dapat memicu hipertensi adalah kandungan natrium yang sangat tinggi. Proses pengasinan dilakukan dengan menambahkan garam dalam jumlah besar untuk mengawetkan ikan. Garam mengandung natrium, mineral yang berperan dalam mengatur keseimbangan cairan tubuh.

Namun, jika asupan natrium berlebihan, tubuh akan menahan lebih banyak air untuk menyeimbangkan kadar garam dalam darah. Akibatnya, volume darah meningkat dan tekanan pada dinding pembuluh darah pun naik. Inilah yang menjadi awal terjadinya tekanan darah tinggi.

Menurut rekomendasi dari World Health Organization (WHO), asupan garam sebaiknya tidak melebihi 5 gram per hari atau setara dengan sekitar satu sendok teh. Konsumsi ikan asin secara rutin dapat dengan mudah melampaui batas tersebut.

2. Meningkatkan volume darah dan beban kerja jantung

Saat tubuh menahan cairan akibat kelebihan natrium, volume darah meningkat. Kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Jika berlangsung terus-menerus, tekanan pada pembuluh darah akan meningkat dan memicu hipertensi kronis.

Dalam jangka panjang, beban kerja jantung yang berlebihan dapat menyebabkan pembesaran jantung dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

3. Mengganggu elastisitas pembuluh darah

Asupan garam yang tinggi juga dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah (endotel). Ketika pembuluh darah kehilangan elastisitasnya, aliran darah menjadi tidak optimal dan tekanan darah cenderung meningkat.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi garam berkaitan erat dengan peningkatan risiko hipertensi, terutama pada individu yang sensitif terhadap garam (salt-sensitive).

4. Risiko lebih tinggi pada kelompok tertentu

Tidak semua orang memiliki respons yang sama terhadap garam. Namun, risiko hipertensi akibat terlalu banyak makan ikan asin lebih tinggi pada:

– Lansia
– Penderita obesitas
– Orang dengan riwayat keluarga hipertensi
– Penderita penyakit ginjal

Pada kelompok ini, tubuh cenderung lebih sulit mengeluarkan kelebihan natrium sehingga tekanan darah lebih mudah naik.

5. Konsumsi jangka panjang sebabkan akumulasi natrium dalam tubuh

Masalah utama bukan hanya sekali makan ikan asin, melainkan konsumsi berulang dalam jangka panjang. Kebiasaan makan ikan asin setiap hari dapat menyebabkan akumulasi natrium dalam tubuh. Tanpa disadari, tekanan darah perlahan meningkat dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Inilah sebabnya hipertensi sering disebut sebagai “silent killer”.

Oleh karenanya, agar tetap sehat, batasi konsumsi ikan asin dan imbangi dengan pola makan rendah garam, perbanyak sayur dan buah, serta rutin memeriksa tekanan darah. Dengan pola hidup yang seimbang, risiko hipertensi dapat dicegah sejak dini.