Kisah Ketaatan Qais bin Shirmah: Tetap Berpuasa Meski Tidak Sahur dan Berbuka

Ilustrasi Qais bin Shirmah, sahabat Rasulullah SAW yang taat berpuasa/Foto : Dok. Istimewa Ilustrasi Qais bin Shirmah, sahabat Rasulullah SAW yang taat berpuasa/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Qais bin Shirmah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang kisahnya menjadi gambaran nyata tentang ketaatan luar biasa kepada Allah SWT.

Meski namanya tidak sepopuler sahabat-sahabat Nabi lainnya, namun peristiwa yang dialaminya pada masa awal Islam menjadi pelajaran penting mengenai kesabaran, kepatuhan, serta rahmat Allah SWT. bagi umat-Nya.

Perlu diketahui, di tahun-tahun pertama diwajibkannya puasa Ramadan, ketentuan puasa berbeda dengan yang kita kenal saat ini. Kala itu, kaum Muslimin diperbolehkan makan dan minum setelah berbuka hingga mereka tertidur.

Namun apabila seseorang telah tertidur selepas waktu Maghrib, maka ia tidak diperbolehkan lagi untuk makan dan minum hingga waktu berbuka keesokan harinya. Aturan ini tentu terasa berat, terlebih bagi mereka yang bekerja keras sepanjang hari.

Qais bin Shirmah pun menjadi sahabat Nabi yang menggantungkan hidupnya pada kerja fisik. Menurut riwayat, ia bekerja di kebun, mengeolah tanah dan merawat tanaman di bawah terik matahari Madinah

Suatu hari di bulan Ramadan, ia pulang menjelang Maghrib dalam keadaan letih dan lapar. Tubuhnya pun lemah karena seharian bekerja dalam keadaan berpuasa. Setibanya di rumah, ia pun meminta istrinya menyiapkan makanan untuk berbuka.

Setelah itu, istrinya segera berusaha menyiapkan hidangan sederhana. Namun, karena kelelahan yang luar biasa, sebelum makanan itu siap, Qais pun terlelap. Ketika ia terbangun, waktu telah berlalu dan malam pun semakin larut.

Menurut ketentuan puasa saat itu, karena ia telah tertidur sebelum makan, ia tidak lagi diperbolehkan untuk makan atau minum hingga keesokan hari saat Maghrib tiba.

Kita dapat membayangkan kondisi fisiknya saat itu. Berpuasa seharian penuh, belum sempat makan sedikit pun saat berbuka, dan kini harus melanjutkan puasa tanpa asupan apa pun hingga esok petang.

Namun, ia memiliki sikap yang menakjubkan. Tak sedikit pun ia mengeluh dan menyalahkan keadaan. Ia pun tidak berusaha mencari keringanan untuk dirinya sendiri. Ia justru memilih taat sepenuhnya pada aturan puasa yang berlaku saat itu.

Peristiwa ini kemudian sampai kepada Rasulullah SAW. Dari sinilah Allah menurunkan keringanan dalam hukum puasa, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang memperbolehkan makan dan minum hingga terbit fajar, meskipun seseorang telah tidur.

Ketaatan Qais bin Shirmah mengandung makna yang sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa seorang mukmin sejati tidak menempatkan kenyamanan pribadi di atas ketaatan kepada Allah. Ia lebih memilih bersabar dalam kesulitan daripada melanggar perintah, meskipun tidak ada manusia lain yang mungkin mengetahui jika ia melanggarnya. Inilah esensi taqwa, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui keadaan hamba-Nya.