Arab Saudi, GPriority.co.id – Konflik geopolitik antara Iran dan AS-Israel mulai berdampak luas. Laporan terbaru menyebut perang ini juga berdampak langsung pada perjalanan ibadah umrah bagi 58 ribu jemaah asal Indonesia.
Dilansir dari laporan ANTARA pada Selasa (3/3), situasi regional security yang tidak stabil memaksa sejumlah maskapai melakukan pengalihan rute atau rerouting, hingga terjadi penundaan penerbangan baik menuju maupun keberangkatan ke Arab Saudi, demi alasan keselamatan.
Beberapa maskapai yang terdampak mencakup penerbangan langsung seperti Garuda Indonesia dan Saudia, serta maskapai transit utama seperti Qatar Airways, Emirates, Etihad Airways, dan Turkish Airlines.
Perubahan jalur udara ini pun memicu schedule uncertainty bagi jemaah yang masih di tanah air maupun yang tengah berada di tanah suci Mekkah.
Data SISKOPATUH menyebut, sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia saat ini tercatat masih berada di Arab Saudi. Pemerintah memastikan seluruh jemaah berada dalam pemantauan intensif sebagai bagian dari langkah mitigasi risiko (risk mitigation) di tengah dinamika situasi kawasan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI, Puji Raharjo, menyatakan pemerintah terus melakukan monitoring ketat terhadap perkembangan konflik regional.
Kemenhaj juga menjalin koordinasi aktif dengan Kantor Urusan Haji, KJRI Jeddah, dan KBRI Riyadh guna memastikan respons cepat terhadap setiap perubahan kondisi di lapangan.
“Kami mengimbau kepada seluruh jemaah umrah agar tidak panik. Tetap tenang dan terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing untuk memperoleh informasi resmi dan terkini,” ujar Puji dikutip dari laman Kemenhaj.
“Kemenhaj terus berkoordinasi dengan instansi terkait, baik di dalam negeri maupun di Arab Saudi, untuk memastikan keamanan dan keselamatan jemaah umrah Indonesia tetap menjadi prioritas utama,” lanjutnya.
Di samping itu, pemerintah turut mengimbau keluarga jemaah agar tidak terpengaruh hoax dan hanya merujuk pada informasi resmi dari PPIU atau biro travel masing-masing.
Hingga kini, kondisi jemaah dilaporkan masih kondusif, meski jadwal penerbangan bersifat fluid akibat penutupan dan pengalihan jalur udara (airspace diversion) di kawasan konflik.
