Jakarta, GPriority.co.id – Selama 20 tahun lamanya, seorang ahli biologi asal Italia mempelajari orang-orang yang hampir tidak pernah sakit, tidak pernah burnout, bahkan juga tidak pernah terus-menerus terkena flu.
Dilansir dari postingan Instagram @mardiguwp, mereka semua memiliki satu kebiasaan yang terlihat “gila” di depan umum. Kebiasaan tersebut bukan soal pola makan, rutinitas olahraga, hingga keunggulan genetik.
Justru sebaliknya, ahli biologi tersebut menemukan sesuatu yang bersifat perilaku yang sangat sederhana dan terasa memalukan. Bahkan kebiasaan ini juga hampir tak terlihat oleh dunia kedokteran modern.
Peserta dalam penelitian tersebut dipantau kadar kortisol, variabilitas detak jantung, serta penanda imunnya. Mereka kemudian diberi dua instruksi yaitu menyimpan pikiran dalam diam atau mengungkapkannya secara pelan.
Hasilnya, mereka yang memilih menyimpan pikiran beban mentalnya meningkat begitupun dengan hormon stresnya. Bahkan juga menekan respons imunnnya karena tubuh menanggung apa yang pikiran menolah untuk lepaskan.
Mengejutkannya, kelompok yang paling banyak menyimpan pikiran adalah orang-orang yang justru memiliki prestasi tinggi. Mereka dilatih untuk tetap tenang, tetap diam, juga tidak pernah kehilangan kendali. Kendati demikian, seiring berjalannya waktu, mereka lah yang justru paling lemah.
Lebih lanjut penelitian tersebut menemukan saat pikiran diucapkan dengan suara keras, kadar kortisol justru akan menurun hingga sekitar 35 persen, detak jantung melambat, serta penanda imun pun menjadi stabil.
Sementara diam justru memberikan efek sebaliknya karena menyimpan semuanya di dalam pikiran. Padahal, berbicara mengaktifkan saraf vagus yang menggeser tubuh dari mode ancaman ke kondisi tenang.
Mengungkapkan pikiran sama halnya seperti proses pencernaan. Bila proses pencernaan tiada, maka racun akan menumpuk. Pikiran harus mencerna emosi sama halnya seperti tubuuh yang mencerna makanan.
Penelitian ini menemukan, di berbagai usia dan tingkat pendapatan, orang-orang yang paling sehat melakukan hal yang sama. Mereka berbicara kepada diri mereka sendiri dengan suara keras di dalam mobil, saat berjalan kaki, atau dimana pun. Tujuannya bukan untuk mencari perhatian, namun memang sengaja dilakukan.
Ketika seseorang mengekspresikan pikiran dan emosi, otak memproses pengalaman tersebut dengan lebih baik. Hal ini membantu mengurangi tekanan psikologis yang bisa berdampak pada tubuh.
Ketika seseorang mengekspresikan pikiran dan emosi, otak memproses pengalaman tersebut dengan lebih baik. Hal ini membantu mengurangi tekanan psikologis yang bisa berdampak pada tubuh.
Beberapa manfaat kesehatan dari mengekspresikan emosi antara lain:
– Mengurangi hormon stres
– Meningkatkan fungsi sistem imun
– Menurunkan risiko burnout
– Membantu tidur lebih nyenyak
– Meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini menciptakan keseimbangan antara pikiran dan tubuh, yang menjadi salah satu kunci utama kesehatan.
Pada akhirnya, temuan dari ahli biologi Italia tersebut memberikan pesan penting bahwa kesehatan tidak hanya bergantung pada pola makan atau olahraga, tetapi juga pada cara kita mengelola emosi dan pikiran.
Mengungkapkan apa yang kita rasakan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk perawatan diri. Berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis jurnal, atau mengekspresikan perasaan melalui aktivitas kreatif dapat membantu tubuh tetap sehat dan pikiran lebih tenang.
