Kebiasaan Sehari-hari Ini Perlahan Dapat Merusak Otak Tanpa Disadari

Ilustrasi seseorang yang menderita insomnia atau sulit tidur/Foto: Dok. Shutterstock Ilustrasi seseorang yang menderita insomnia atau sulit tidur/Foto: Dok. Shutterstock

Jakarta, GPriority.co.id – Di balik gaya hidup modern yang serba cepat dan praktis, ternyata tersembunyi sejumlah kebiasaan yang diam-diam bisa merusak kesehatan otak. Mulai dari kurang tidur, kecanduan layar, hingga pola makan tak seimbang, kebiasaan-kebiasaan ini disebut para ahli sebagai pemicu menurunnya fungsi kognitif, bahkan sejak usia muda.

Dalam wawancara bersama HT Lifestyle, Dr. Raghvendra Ramdasi, Konsultan Bedah Saraf di Rumah Sakit Jaslok, Mumbai, mengungkapkan bahwa banyak pasien muda tidak menyadari bahwa gaya hidup mereka justru mempercepat penurunan kesehatan otak.

“Kurang tidur, waktu layar yang berlebihan, kurangnya olahraga fisik, pola makan tidak sehat, stres, penyalahgunaan zat, dan multitasking adalah penyebab umum. Kekurangan tidur mengganggu fungsi kognitif, sementara makanan junk food tidak memiliki nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan otak,” ujarnya dikutip The Hindustan Times, Rabu (27/8).

Lebih lanjut, Dr. Ramdasi menyebut bahwa paparan berlebihan terhadap perangkat digital dapat menyebabkan kelelahan mental, sementara stres kronis dapat mengganggu memori dan fokus. Multitasking pun disebut dapat menghambat pembelajaran mendalam dan mengikis kreativitas.

Senada dengan itu, Dr. Vikram Huded, Kepala Departemen dan Direktur Neurologi Intervensi di Grup Narayana, menekankan pentingnya membentuk kebiasaan sehat sejak dini. Ia mengingatkan bahwa paparan berulang terhadap layar, konsumsi makanan tidak sehat, dan kurang tidur dapat mengganggu perkembangan otak secara permanen.

“Orang tua harus memantau penggunaan layar anak, mendorong aktivitas fisik, serta menyediakan makanan bergizi dan tidur yang cukup. Konsistensi dalam hal ini sangat krusial untuk mendukung pertumbuhan otak yang sehat,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Arvind Bhateja, Kepala Bedah Saraf dan Tulang Belakang di Rumah Sakit Sparsh, menyoroti risiko yang mengintai individu berusia 40 hingga 50 tahun. Ia menyebut gaya hidup sedentari, stres kronis, dan kualitas tidur yang buruk sebagai faktor yang mempercepat penuaan otak.

“Stres kronis meningkatkan kadar kortisol yang mengecilkan area otak penting untuk memori. Kurang tidur menghambat proses perbaikan otak, dan minimnya olahraga mengurangi aliran darah ke otak,” ujarnya.

Dr. Arvind juga mengingatkan agar masyarakat menghindari makanan ultra-proses, nikotin, serta zat psikotropika, dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih sehat seperti olahraga rutin, tidur berkualitas, dan teknik mindfulness untuk meredakan stres.