Wanita di Aceh Tamiang Bantah Klaim Prabowo, Akui Masih Menderita

Wanita di Aceh Tamiang yang bantah klaim Prabowo - Anggota DPD RI dan aktivis Ni Luh Djelantik/Foto : Dok. Instagram @niluhdjelantik Wanita di Aceh Tamiang yang bantah klaim Prabowo - Anggota DPD RI dan aktivis Ni Luh Djelantik/Foto : Dok. Instagram @niluhdjelantik

Aceh, GPriority.co.id – Sebuah unggahan dari anggota DPD RI dan aktivis Ni Luh Djelantik kembali memicu perhatian publik di media sosial. Dalam postingan yang diunggah pada Selasa (24/3) lalu itu, seorang wanita di Aceh Tamiang membantah klaim pemerintah terkait kondisi kesejahteraan masyarakat.

Wanita yang tidak diketahui namanya tersebut mengaku hingga kini ia masih hidup dalam kesulitan, bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menyebut kondisi rakyat yang terdampak bencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, semakin membaik.

“Menanggapi statement Pak Prabowo yang katanya korban banjir sudah tidak lagi tinggal di tenda, Bapak lihat ini Pak. Lihat desa kami yang terisolir ini Pak. Adapun hunian sementara Pak, hanya lima persen Pak. Belum bisa kami tempati sama sekali,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, hunian-hunian tersebut juga belum memiliki atap sama sekali. Dengan tegas, wanita itu mengatakan jika sudah seharusnya Prabowo tidak terlalu percaya kepada jajarannya.

“Jajaran Bapak bilang baik-baik saja, sudah (ada) hunian sementara, sudah semuanya. Bapak terlalu percaya Pak. Bapak dengarkan keluhan kami masyarakat ini, masyarakat yang rendah seperti kami ini Pak. Bapak lihat sendiri menderitanya kami selama ini Pak. Kedinginan, kepanasan kami di sini Pak. Bapak dengarkan keluhan kami,” lanjutnya.

Wanita itu pun menuangkan kekesalannya dan secara terang-terangan mengungkapkan rasa kekecewaan kepada Prabowo.

Ni Luh Djelantik dalam unggahannya juga menyoroti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sudah seharusnya dialokasikan untuk warga yang terdampak bencana di Sumatera.

“MBG banyak yang mubazir Pak presiden, sekalipun libur tetap dibagikan dan ribuan testimoni menunjukkan kualitas makanan sangat buruk,” tulisnya.

Ia pun menyuarakan agar program MBG ke depannya dapat dialokasikan untuk kebutuhan mendesak lainnya.

“Alokasikan MBG ke kebutuhan mendesak lainnya Pak. Ke sektor pendidikan, gaji guru dengan manusiawi, anak-anak miskin bersekolah gratis. Dan yang tak kalah pentingnya pak, korban banjir Sumatera telah berbulan-bulan hidup dalam pengungsian,” tegasnya.