Pasca Tragedi KA Bekasi Timur, Tri Adhianto: Flyover Rp300 Miliar Solusi Paling Efektif

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, dorong percepatan pembangunan flyover Rp300 miliar usai insiden kecelakaan KA di Stasiun Bekasi Timur/Foto : Dok. GP Nindya & Instagram @triadhianto Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, dorong percepatan pembangunan flyover Rp300 miliar usai insiden kecelakaan KA di Stasiun Bekasi Timur/Foto : Dok. GP Nindya & Instagram @triadhianto

Bekasi, GPriority.co.id – Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) memicu respons cepat dari pemerintah daerah.

Selain proses investigasi terhadap dugaan keterlibatan taksi listrik Green SM yang disebut mengalami kendala teknis, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi kini mendorong percepatan pembangunan flyover di perlintasan sebidang sebagai solusi jangka panjang.

Dilansir dari postingan video di akun Instagramnya, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyatakan bahwa proyek pembangunan flyover sebenarnya telah lama direncanakan. Namun, tragedi kecelakaan ini menjadi momentum untuk mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur tersebut guna mencegah kejadian serupa terulang.

Pemkot Bekasi menilai perlintasan sebidang, terutama di kawasan dekat stasiun seperti Bekasi Timur, sudah tidak lagi ideal mengingat tingginya volume kendaraan dan frekuensi perjalanan kereta.

Tri Adhianto mengungkapkan bahwa pembangunan flyover membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Estimasi total biaya mencapai sekitar Rp250 miliar hingga Rp300 miliar, tergantung pada kebutuhan konstruksi dan pembebasan lahan.

Saat ini, pemerintah daerah telah mengalokasikan dana secara bertahap sejak 2025 untuk pembebasan lahan. Total anggaran yang sudah disiapkan mencapai lebih dari Rp100 miliar. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari cukup untuk menyelesaikan proyek secara keseluruhan.

“Kami sudah siapkan pembebasan lahan, tapi untuk pembangunan fisik masih membutuhkan dukungan besar dari pemerintah pusat,” ujar Tri dalam keterangannya.

Ia menegaskan, percepatan pembangunan flyover sangat penting mengingat tingginya mobilitas masyarakat serta risiko kecelakaan di perlintasan sebidang yang masih aktif digunakan.

Lebih lanjut, Tri Adhianto menilai pembangunan flyover merupakan solusi paling efektif untuk menghilangkan perlintasan sebidang yang selama ini menjadi titik rawan kecelakaan.

Menurutnya, dengan tingginya frekuensi perjalanan kereta yang bisa mencapai interval kurang dari 10 menit, risiko konflik antara kendaraan dan kereta sangat tinggi. Selain itu, keterbatasan jalur rel yang hanya berupa double track membuat pengaturan lalu lintas kereta menjadi semakin kompleks.

“Kalau melihat rasio kendaraan yang melintas, seharusnya memang sudah tidak ada lagi perlintasan sebidang,” kata Tri.

Pembangunan flyover diharapkan tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga memperlancar arus lalu lintas kendaraan yang selama ini sering terhambat oleh penutupan palang kereta.