Warga Sambau Protes Air Mati Berbulan-Bulan Sejak Data Center Dibangun

Ratusan warga Kavling Sambau, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, menggelar aksi protes setelah mengalami gangguan pasokan air bersih selama berbulan-bulan/Foto : Dok. Istimewa Ratusan warga Kavling Sambau, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, menggelar aksi protes setelah mengalami gangguan pasokan air bersih selama berbulan-bulan/Foto : Dok. Istimewa

Batam, GPriority.co.id – Ratusan warga Kavling Sambau, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, menggelar aksi protes setelah mengalami gangguan pasokan air bersih selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut kemudian memburuk hingga aliran air mati total di sejumlah wilayah.

Warga menduga persoalan pasokan air berkaitan dengan pembangunan data center di kawasan Nongsa. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung terhentinya aliran air.

Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Sambau, Andi Lalang, mengatakan sebelum air mati total, warga masih mendapatkan aliran air selama beberapa jam dalam sehari. Karena persoalan tak kunjung mendapatkan solusi, sekitar 300 warga akhirnya turun melakukan aksi.

“Sejak ada data center, kami warga jadi kesulitan air. Kami sudah kirim surat, tetapi tidak ada tanggapan, tidak ada respons. Orang data center menjanjikan mau mempertemukan kami dengan ABH, tetapi kami tunggu tidak ada. Baru hari ini kami turun, orang ABH datang,” ujar salah seorang warga, dikutip dari laporan Kompas.

Warga berharap pemerintah segera memastikan penyebab gangguan sekaligus memberikan solusi terhadap kebutuhan air bersih masyarakat. Apalagi, kawasan Nongsa saat ini berkembang pesat sebagai salah satu pusat investasi digital dan data center di Batam. Salah satu proyek data center berbasis kecerdasan buatan bahkan tengah dikembangkan di kawasan tersebut.

Sementara itu, BP Batam menyatakan akan memeriksa sumber dan jaringan distribusi air di setiap wilayah. Pemeriksaan diperlukan karena kondisi aliran air dapat berbeda, bahkan antar-Rukun Tetangga (RT).

Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menjelaskan gangguan pasokan air di Nongsa juga dipengaruhi kondisi musim kemarau. Produksi air yang biasanya mencapai sekitar 90 liter per detik disebut turun menjadi sekitar 25 liter per detik.

BP Batam kini mendapat dukungan pasokan dari Waduk Duriangkang. Denny juga membantah dugaan adanya aliran air sebesar 160 liter per detik yang secara khusus dialirkan ke kawasan data center. Ia menyebut sejumlah data center telah menyiapkan sistem pengolahan air sendiri.

Kekhawatiran mengenai kebutuhan air data center sebelumnya juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Batam. Pemko Batam dan BP Batam menyiapkan solusi melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) agar kebutuhan industri data center tidak mengurangi pasokan air waduk untuk masyarakat.

Wali Kota Batam sekaligus ex-officio Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan kebutuhan air industri yang besar seharusnya dipenuhi melalui sumber air mandiri. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi dan kebutuhan dasar masyarakat.

Dengan kondisi ini, persoalan air di Sambau menjadi perhatian serius di tengah pesatnya pembangunan data center di Nongsa. Pemeriksaan jaringan dan sumber air diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab gangguan serta memastikan kebutuhan air bersih warga tetap menjadi prioritas.