Jakarta, GPriority.co.id – Perpustakaan Nasional (Perpusnas RI) menyoroti tantangan besar literasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di tengah derasnya arus informasi yang beredar di masyarakat.
Perpusnas menilai kemampuan literasi menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak mudah terjebak disinformasi maupun penyalahgunaan teknologi digital.
Melalui acara “Seminar Literasi Digital: Literasi Digital, Inklusi Digital, dan Martabat Manusia” yang diselenggarakan pada Kamis (21/5), Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, menegaskan perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan budaya literasi yang kuat.
“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab,” ujar Aminudin dalam keterangannya.
Menurutnya, era banjir informasi membuat masyarakat semakin rentan menerima informasi palsu, manipulatif, hingga konten yang menyesatkan.
Karena itu, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan buku, melainkan pusat pembelajaran masyarakat berbasis teknologi dan kreativitas.
“Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, tetapi harus menjadi ruang tumbuhnya kreativitas, pembelajaran, dan pengembangan pengetahuan masyarakat,” kata Aminudin.
Perpusnas juga menilai tantangan literasi digital saat ini semakin kompleks seiring masifnya penggunaan AI di berbagai sektor kehidupan.
Di satu sisi, teknologi mampu membantu akses informasi menjadi lebih cepat. Namun di sisi lain, masyarakat dituntut lebih cermat dalam memilah informasi yang valid dan akurat.
Aminudin menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan proses berpikir manusia. Ia menyebut kemampuan membaca, memahami, serta menganalisis informasi tetap menjadi keterampilan utama di era digital.
Selain itu, Perpusnas terus memperkuat layanan berbasis teknologi untuk meningkatkan budaya literasi nasional.
Saat ini, Perpusnas mengelola jutaan koleksi digital maupun cetak yang dapat diakses masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Perpusnas juga mengembangkan pemanfaatan AI untuk mendukung pelestarian bahasa daerah di Indonesia.
Program dokumentasi bahasa berbasis teknologi itu dilakukan sebagai langkah menjaga warisan budaya nasional agar tidak punah di tengah perkembangan zaman.
“Bahasa daerah tidak boleh hilang begitu saja. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar dapat diwariskan lintas generasi,” ujar Aminudin.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, Perpusnas berharap masyarakat semakin sadar pentingnya literasi digital agar mampu menggunakan AI secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
